Home Benny's Wisdom POLA BERFIKIR BERKEMBANG DARI RUMAH DAN SEKOLAH

POLA BERFIKIR BERKEMBANG DARI RUMAH DAN SEKOLAH

0
SHARE

 

Oleh : S Benny Pasaribu

SEJAK kecil, saya menjalani kehidupan secara berpindah pindah. Lahir di Medan di tengah keluarga pendidik, ayah saya seorang guru SMP. Sayangnya pada usia 3 tahun saya bersama 3 orang saudara kandung menjadi anak yatim, ayah meninggal tahun 1961. Saya dan seorang adik saya dibawa ke kampung, Sianjur Mulamula di kaki gunung Pusuk Buhit, Samosir. Disana kami tinggal bersama kakek/ nenek, keluarga petani, sampai saya berusia 15 tahun, lulus SMP. Kami hidup sederhana sekali dan saya aktif membantu Kakek/ Nenek bertani dan mengangon kuda dan kerbau sejak usia 6 tahun. Kakek bernama St Theodorick Pasaribu Habeahan dan Nenek bernama Rumambi br Silalahi Sinabutar. Pada usia saya 9 tahun, Tuhan memanggil Kakek, tahun 1967. Kami sangat kehilangan beliau dan tidak ada lagi figur ayah dalam keluarga. Saya dan adik selanjutnya dibesarkan oleh Nenek.

Sangat banyak pengajaran yang saya peroleh dari Kakek terutama menyangkut tentang prinsip hidup dan sejarah/ tarombo Pasaribu diawali dari Si Raja Batak di Gunung Pusuk Buhit. Pengalaman hidupnya sangat banyak saat jadi anggota Dewan di Kenegerian Limbong, Tunggane Huta, dan Sintua di HKBP Aek Tintin, Limbong. Biasanya saya hanya mendengar dan mencatat. Sesekali bertanya. Kakek selalu sabar menjelaskan jika ditanya. Tetapi tidak ada perdebatan. Demikian juga pengajaran dari Nenek, hampir setiap hari menanamkan kerja keras dan maradat/ santun kepada siapapun. Nenek aktif di Gereja, par ari Kamis. Juga aktif dalam setiap acara adat dan sangat aktif memperjuangkan keadilan dan kebenaran secara terbuka. Siapapun dia bela jika benar. Dia juga mengikuti dan paham tentang sejarah dan tarombo Pasaribu, mulai dari ompung Guru Tatea Bulan.

Berhubung tidak ada sekolah lanjutan SMA atau setingkatnya di kampung maka saya harus pindah ke Galang, Deliserdang. Saya tinggal di rumah keluarga paman/ tante, seorang mantri kesehatan dan petani, putri pertama dari Kakek. Saya masuk SMA Beringin Galang, swasta tahun 1974. Setelah pulang sekolah, saya juga ikut membantu Tante bertani dan beternak.

Dari pengalaman berpindah dengan keluarga berbeda, saya merasa kebebasan berfikir itu sebenarnya ada tetapi jarang digunakan. Diskusi pemikiran atau imaginasi hampir tidak terjadi. Yang ada adalah tuntunan adat istiadat yang mengutamakan sopan santun dan menghindari pertengkaran, baik di dalam maupun diluar rumah. Perdebatan pemikiran atau gagasan hampir tidak terjadi. Bahkan di sekolah juga tidak pernah guru menanyakan apakah ada murid mau bertanya. Kemungkinan guru berasumsi bahwa para siswa telah paham hal-hal yang diajarkan.

Kemudian, saya pindah ke SMA Katolik BTB di Balige dan tinggal di rumah paman, JRH Sinaga seorang Jaksa, keluarga yang cukup baik kehidupannya. Saya dan adik saya tinggal bersama disana dan hampir tidak ada pekerjaan setelah pulang sekolah. Disana mulai bersosialisasi dengan warga masyarakat, terutama komunitas bola, tennis, dan karate. Pertama sekali paman saya bertanya tentang cita cita saya.

setelah lulus SMA. Saya tidak menduga ada pertanyaan seperti itu dan saya tidak bisa langsung menjawabnya. Saya gugup dan tak tau mau jawab apa. Di dalam pikiran saya banyak hal melintas sehingga tidak ada satu jawaban yang pasti. Lalu paman meminta saya untuk memikirkannya dulu. Malamnya saya tidak bisa tidur nyenyak dan pertanyaan itu muncul berulang-ulang. Saya butuh kurang lebih sebulan baru bisa memberikan jawabannya.

Kenapa demikian? Menurut saya karena selama ini tidak terbiasa diajak berdiskusi atau berfikir. Di rumah juga jarang berdiskusi dan cenderung menerima aturan peraturan berbasis agama dan budaya, bukan mendiskusikannya. Perbedaan pendapat dianggap melawan dan sering harus keluar dari rumah. Di sekolah, kita diajari menghafal pelajaran, sekolah bukan mengasah nalar dan logika. Guru mencekoki murid dengan ilmu pengetahuan secara satu arah, tanpa perdebatan.

Setelah lulus SMA, saya menemui paman, Kol TNI Purn MSM Sinaga, Bupati Tapanuli Utara (1968–1979), dan menginap di rumah dinas Bupati selama 2 malam, pada akhir tahun 1976. Walau singkat tapi sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan saya. Sebenarnya saya sudah diterima tanpa test di IPB Bogor. Tetapi saya merasa perlu memberitahu dan meminta nasihat dan dukungan dari paman.

Tiba saat serapan pagi, saya melaporkan kelulusan saya dari SMA BTB Balige. Kembali saya terkejut, diluar dugaan, paman bertanya selanjutnya mau kerja di kantor Bupati atau mau kuliah? Beliau menjelaskan juga bahwa kalau bekerja dan jadi pegawai akan menerima honor. Namun kalau Paman tidak menjabat Bupati lagi maka karier kepegawaian akan tergantung pada Bupati berikutnya. Tetapi jika lanjut kuliah, menjadi sarjana, kemudian bekerja dan mendapat penghasilan, maka masa depan akan lebih terjamin, jenjang karier akan lebih baik dengan gaji lebih tinggi. Bahkan bisa membuat usaha pribadi, membuka lapangan pekerjaan bagi diri sendiri dan orang lain. Mau pilih yang mana? tanya Paman.

Paman mengajak berdiskusi tapi saya tidak mampu menjawabnya. Saya disuruh memikirkannya dulu 1-2 hari. Pertanyaan sederhana tapi bagi saya sangat sulit menjawabnya. Pikiran berputar putar dan malamnya tidak bisa tidur. Tentu saja kalau saya langsung bekerja maka dari honor bisa membantu nenek dan keluarga di kampung. Gampang dapat pekerjaan dan punya uang tiap bulan. Sedangkan kalau pilih kuliah, pasti membutuhkan dana besar untuk membayar uang kuliah dan biaya hidup, hampir tidak mungkin dari kampung. Pilihan sulit. Air mata membasahi bantal pada malam itu.

Berfikir sambil menganalisa berbagai kemungkinan memang sangat melelahkan. Berputar putar dan sulit memilih. Maunya kuliah tapi tidak ada uang. Harus segera diputuskan karena ditunggu jawaban saya. Paman saya Jaksa di Balige dan Bupati di Tarutung betul betul cara berfikir, logika dan nalar saya. Suatu kesempatan mahal, mendidik saya untuk berfikir dan mengambil keputusan berat yang menentukan kehidupan jauh ke masa depan. Esok harinya saya diajak serapan pagi bersama keluarga. Paman bertanya apakah sudah ada pilihan saya. Semua terdiam mendengar jawaban. Saya gemetar dan duluan air mata menetes sebelum ucapan kata. Jujur saya sampaikan apa yang telah saya pikirkan. Saya mau kuliah. Tetapi tidak cukup dana dari kampung untuk membayar uang kuliah dan kebutuhan lainnya di IPB Bogor.

Awalnya saya ingin masuk AKABRI karena bebas biaya kuliah dan langsung bekerja setelah lulus. Namun itu hanya keinginan, belum test, belum diterima di AKABRI. Setelah saya jelaskan semua pilihan yang ada, ternyata, Paman dan Tante senang mendengar jawaban saya.. Saya pilih melanjutkan kuliah. Nekat saja. Paman ternyata sudah menduganya. Dia katakan pilih IPB saja dari pada AKABRI dengan panjang lebar penjelasan yang masuk akal saya. Paman juga menambahkan, soal kebutuhan dana, paman bersedia membantu uang kuliah selama 4 tahun, kata paman. Tante mengangguk sambil melihat saya. Saya terharu senang dengan air mata menetes deras. Besoknya saya pulang membawa uang dari paman. Dengan mengucapkan terima kasih, saya juga berdoa kiranya Tuhan selalu menyertai dan memberkati Paman dan keluarga. Paman (Tulang) dipanggil Tuhan pada tanggal 28 Mei 2000, usia 76 tahun. Tante juga telah dipanggil Tuhan. Pada waktu sakit saya datang ke Medan menjenguknya ke rumah sakit. Dan saat wafat, saya juga hadir sampai mengantarnya ke pemakaman di kampung, Urat, di Samosir. Waktu Tante (Nantulang) sakit dan saat dipanggil Tuhan juga saya hadir dan ikut mengantarnya ke pemakaman di Urat. Saya bersujud dan berdoa kiranya mereka dimuliakan Tuhan di Surga.

Pada masa perkuliahan tahun 1977 di IPB Bogor, cara berfikir saya makin berkembang. Saya memilih Unit Kegiatan Diskusi pada semester pertama. Mentornya kakanda Ir Soemarna Fatulbahri. Walau hanya 1 jam dalam seminggu tetapi sangat produktif karena diajari cara mengemukakan pendapat, berdiskusi dan berdebat. Klipping koran dan cuplikan buku juga dibahas. Issu yang diperdebatkan mulai dari tata kelola negara, demokrasi, dan perkembangan sosial politik. Kemudian tahun 1978 saya terpilih menjadi ketua umum Himpunan MISETA (Mahasiswa Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian). Saya menulis visi misi dan berkampanye di kalangan mahasiswa Sosek IPB. Saya memenangkan pemilihan langsung dari 3 orang kandidat. Selanjutnya, setiap program kerja dan pendanaannya selalu didiskusikan sebelum dilaksanakan. Semuanya transparan.

Banyak prestasi yang dihasilkan seperti membersihkan dinding dan halaman tengah kampus, ruang kelas, dan ruang perpustakaan. Setiap akhir minggu, terjun dan menginap di desa, membantu kaum perempuan, orangtua dan pemuda, membuat jamban dan memberi contoh bercocok tanam kepada warga masyarakat desa. Saya atas nama MISETA melakukan kerjasama dengan BULOG dengan membentuk Satgas Mahasiswa untuk Pengadaan Gabah dari petani pada tahun 1978. Dengan bimbingan Prof Sinaga, saya mengkoordinir sejumlah mahasiswa yang bersedia meninggalkan kuliah hingga 2-3 minggu membantu BULOG/ Petani di kabupaten Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, dan Indramayu. Kemudian tahun 1979 dirubah menjadi Satgas Mahasiswa yang ditempatkan di KUD di 5 kabupaten tersebut, bersama KUD membeli langsung dari petani dan menjualnya ke BULOG. Tahun 1980/1981 juga membantu KUD hingga saya lulus IPB dan wisuda pada 21 Maret 1981.

Selama perkuliahan di IPB Bogor, kebebasan berpendapat sangat terbuka meskipun itu hanya di dalam kampus. Berdebat sesama mahasiswa di kelas atau diluar kelas adalah hal biasa. Diluar kampus berbeda lagi, terasa sulit sekali bersuara mengeritik pemerintah. Demo mahasiswa tahun 1977–1979 berakibat pemerintah membubarkan Dewan Mahasiswa, diganti dengan NKK/ BKK. Mahasiswa berhadapan dengan rejim pemerintah yang kemudian menangkap dan melukai sejumlah aktifis kampus. Pemerintah menugaskan aparat TNI, eks pasukan perang Timor Timur, mengawasi pergerakan mahasiswa. Mereka berdiri diluar pagar kampus tetapi sesekali masuk juga ke dalam kampus mencari para aktifis. Sejak 1978, pemerintah mulai membatasi kebebasan berpendapat dan berorganisasi. Mahasiswa menolak kehadiran NKK/ BKK yang dipaksakan oleh Menteri Pendidikan, Prof Daoed Yusuf. Kami membentuk organisasi dengan nama Keluarga Mahasiswa (KM) IPB. Saya aktif di organisasi kemahasiswaan dimulai sejak menjadi Ketua Umum MISETA dan di dalam pergerakan KM IPB. Ikut aktif berdiskusi yang selalu penuh perdebatan hangat di antara mahasiswa IPB dan antara KM IPB dan KM kampus lain seperti UI, ITB, dll. Setiap demo, selalu diawali dengan perdebatan tentang arah, sasaran, waktu, dan peta jalan pergerakan. Banyak juga keluar dana sendiri dan waktu belajar yang digunakan. Bisa pagi, siang, malam, hingga subuh.

Kemudian saya berangkat ke Amerika Serikat tahun 1988 melanjutkan kuliah S-2 dan tahun 1990 ke Kanada untuk S-3. Disana saya aktif dalam berbagai organisasi, termasuk organisasi Persatuan Mahasiwa Indonesia Kanada (PERMIKA). Saya terpilih menjadi Ketua Umum pada Kongres I pada tahun 1991 di Toronto, dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Kanada, mayoritas mahasiswa studi Islam, dari MacGill University, Quebec. Saya terpilih dengan jumlah suara 97% dari 2 orang kandidat.

Pada tahun 1992 kita kembali mengadakan Kongres II di Ottawa, di kampus saya Universitas Ottawa. Hadir lebih banyak lagi mahasiswa Indonesia dari semua kampus yang tersebar dari Vancouver sampai Nova Scotia. Hasil diskusi dibukukan dan dikirim ke MPR RI, Presiden Soeharto, Menteri Pemuda dan Olahraga, Menko Perekonomian, dan Bappenas. Dikirim untuk dijadikan bahan masukan untuk GBHN tahin 1993-1998. Tentu saja di dalam kongres selalu ada diskusi dan perdebatan hangat. Semua itu tidak mengurangi rasa persaudaraan di antara mahasiswa dan juga antara kami dengan Kedutaan Besar RI dan Pemerintah Kanada. Semuanya berjalan lancar dan pendanaanya juga tidak kekurangan.

Saya sempat pulang ke Indonesia untuk menemui sejumlah Menteri, diantaranya Menko Perekonomian Radius Prawira, Menteri Perindustrian Tungki Ariwibowo, Menteri Kehutanan Hasrul Harahap, Menteri Koperasi/ Kepala Bulog Bustanil Arifin, dan Menteri Pemuda dan Olahraga Akbar Tanjung. Semuanya mendukung dan memberikan bantuan dana sehingga bisa menutupi biaya, termasuk biaya penginapan dan konsumsi, dan bantuan biaya perjalanan untuk peserta.

Apa yang ingin saya katakan, bahwa lulus sarjana pastilah memperoleh ijasah dan ilmu. Tetapi bagi saya itu tidak cukup. Saya juga membekali diri dengan berbagai pengalaman berorganisasi dan jaringan. Semua menjadi satu kesatuan, melekat dan menyatu sebagai modal dasar untuk bekerja di tengah masyarakat dan bangsa. Itu semua membentuk dan mengembangkan wawasan dan cara berfikir yang lebih baik. Hal ini tidak datang dengan sendirinya. Menurut saya harus terus diasah, dipelajari, dilatih, mulai dari kecil, dari rumah, sekolah, dan kampus. Itulah modal sosial yang sangat berharga. Banyak pengorbanan untuk memperolehnya. Jika modal hanya ijasah dan ilmunya, peluang dan kesempatan berbuat maksimal di tengah masyarakat dan bangsa menjadi sangat terbatas. Bahkan bisa jadi mencari pekerjaan juga sulit. Lulus cumlaude dari universitas tidak menjamin berhasil di tengah masyarakat.

Ke depan pengembangan cara berfikir yang baik dan wawasan yang luas perlu menjadi perhatian para orangtua, pendidik, dan pemerintah. SEMOGA!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here