Home Nasional Inflasi Agustus 2026 Naik 3,19 Persen Disumbang Kenaikan Harga Pangan

Inflasi Agustus 2026 Naik 3,19 Persen Disumbang Kenaikan Harga Pangan

0
SHARE

 

Matanurani, Jakarta – Inflasi Indonesia meningkat pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 3,19% secara tahunan (year on year/yoy), naik dari 2,88% yoy pada Juli 2026.

Kenaikan tersebut terutama didorong oleh kelompok volatile food atau komponen harga pangan yang bergejolak. Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi volatile food pada Agustus 2026 mencapai 4,06% yoy, naik cukup signifikan dari 2,52% yoy pada bulan sebelumnya.

Gubernur BI, Destry Damayanti mengatakan, kenaikan inflasi IHK masih berada dalam sasaran yang ditetapkan pemerintah. Namun, tekanan harga pangan menjadi salah satu faktor yang perlu terus diantisipasi.

“Inflasi IHK pada Agustus 2026 tercatat 3,19 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya sebesar 2,88 persen yoy,” ujar Destry dikutip dari YouTube Bank Indonesia, kamis (24/9).

Menurut Destry, kenaikan inflasi IHK terutama dipengaruhi oleh peningkatan inflasi kelompok volatile food. Beberapa komoditas yang memberikan tekanan antara lain daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.

“Inflasi IHK pada Agustus 2026 tercatat 3,19 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya sebesar 2,88 persen yoy. Kenaikan inflasi IHK terutama dipengaruhi kenaikan inflasi kelompok volatile food (VF) menjadi 4,06 persen yoy, terutama disumbang kenaikan harga komoditas daging ayam ras, cabai rawit, dan beras,” kata Destry.

Data BI menunjukkan tekanan harga pangan pada Agustus meningkat setelah pada Juli kelompok volatile food hanya mencatat inflasi 2,52% yoy. Secara bulanan, kelompok tersebut juga mengalami inflasi 0,88% pada Agustus, berbalik dari deflasi 1,68% pada Juli.

Di sisi lain, inflasi inti masih berada di bawah 3%. Inflasi inti pada Agustus 2026 tercatat 2,92% yoy, meningkat dari 2,76% yoy pada Juli. BPS juga mencatat inflasi inti secara bulanan sebesar 0,21% pada Agustus, sementara inflasi tahun kalender atau year to date (ytd) mencapai 1,97%.

Sementara itu, kelompok administered prices atau harga yang diatur pemerintah justru mengalami penurunan tekanan. BI mencatat inflasi kelompok tersebut secara tahunan turun menjadi 3,32% pada Agustus dari 3,58% pada Juli.

Secara bulanan, kelompok administered prices bahkan mengalami deflasi 0,33%. Penurunan tersebut terutama berasal dari tarif angkutan udara dan harga bensin, seiring penyesuaian harga avtur serta BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Turbo.

Dengan demikian, kenaikan inflasi Agustus lebih banyak mencerminkan meningkatnya tekanan dari komponen pangan dibandingkan tekanan dari harga yang diatur pemerintah. Sementara itu, inflasi inti yang mencerminkan kecenderungan harga barang dan jasa secara lebih mendasar masih berada di bawah 3%.

BI mengatakan akan terus memperkuat bauran kebijakan, termasuk stabilisasi nilai tukar rupiah, untuk menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5% plus minus 1% pada 2026 dan 2027. “Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat respons bauran kebijakan moneter termasuk stabilisasi nilai tukar Rupiah, agar inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027,” ujar Destry.

Selain kebijakan moneter, BI akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah untuk mengendalikan harga pangan. Upaya tersebut dilakukan melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID), termasuk implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

“Bank Indonesia juga terus memperkuat sinergi dengan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID) dalam implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), guna mengendalikan inflasi pangan termasuk antisipasi dampak gangguan cuaca (El Nino) terhadap harga pangan,” kata Destry.

BPS mencatat inflasi IHK Agustus 2026 sebesar 0,21% secara bulanan dan 1,86% secara tahun kalender. Dengan inflasi tahunan 3,19%, realisasi tersebut masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional 2,5% plus minus 1%. (Aku).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here