Grand Final Rising Star Indonesia memaku posisi duduk saya. Mata tertuju pada layar RCTI hingga pentas tuntas hanya karena seorang Amnesh Kamaleng, putra NTT berdarah Alor.
Amnesh benar-benar membius penonton seisi studio RCTI, tak terkecuali pemirsa atau penonton yang menyaksikan aksi panggungnya melalui layar kaca.
Making Love Out of Nothing at All dari Air Supply menjadi tembang pamungkas Amnesh pada malam grand final. Akhirnya, Amnesh dinobatkan sebagai the new rissing star setelah menyisihkan Fauzia Khalida dengan mengumpulkan polling sebanyak 80 %.
Namun, tulisan ini tidak akan mengupas atau mengulas ajang Grand Final Rissing Star Indonesia atau Amnesh Kamaleng karena saya pernah menulisnya pada bagian lain masih dalam media yang sama ini. (Baca: Server Polling Rissing Star Mendadak Ngadat, NTT Sumbang Putra Terbaiknya).
Salah satu segmen malam grand final yang menarik perhatian penulis, yakni kehadiran Gigi Band. Sang vokalis, Armand Maulana menghipnotis penonton seisi studio. Gerakan tubuhnya nan energetik. Suaranya meraung-raung membakar semangat penonton dan para juri untuk berdendang dan meregangkan urat badan. Kerinduan penonton akan nostalgia lagu-lagu lawas Gigi pun terpenuhi pada malam itu.
Tentu pembaca sudah pada tahu Gigi Band. Band ini resmi dibentuk pada tanggal 22 Maret 1994. Pada awalnya Grup Band beranggotakan Armand Maulana (vokalis), Thomas Ramdhan (bassis), Dewa Budjana (gitaris), Ronald Fristianto (drummer), dan Baron Arafat (gitaris).
Nama “Gigi” dipilih setelah para personilnya tertawa lebar mengomentari nama “Orang Utan” yang nyaris dijadikan nama band ini. (Baca: Biografi Gigi – Band Indonesia)
Mereka berasal dari perlbagai latar belakang musik. Kemudian mereka memadukan ke dalam satu ciri khas musik ala Gigi. “Angan” adalah album perdana band yang telah berusia 23 tahun ini.
Yang menarik dari personil band ini, tidak semua beragama islam. Salah satu di antaranya, Dewa Bujana, beragama hindu. Perbedaan keyakinan personil tidak meretakan hubungan antar personil, sebaliknya terajut toleransi antara sesama personil yang beda agama.
Dua puluh tiga tahun perjalanan Gigi Band adalah bukti nyata mereka mampu hidup dalam perbedaan. Armand Maulana, dkk yang beragama Islam dan Dewa Bujana yang beragama hindu hidup dalam satu rumah Indonesia, dalam kamar atau bilik yang bernama Gigi Band.
Meskipun dalam kelompok kecil, keanggotaan band belum merepresentasikan semua agama, Gigi Band dapat menjadi contoh yang baik untuk mengembangkan visi dan misi toleransi di Indonesia. Berita disharmonisasi antar personil tidak pernah ada hanya karena alasan beda agama. Kerukunan antar personil dan kokohnya nilai toleransi yang terus dirawat semakin melapangkan perjalanan Gigi Band menuju puncak usia peraknya.
Tak bermaksud untuk menyandingkan apalagi untuk membanding-bandingkan dengan group band lain, Gigi Band terbilang lebih kokoh daripada Dewa 19 yang telah lama vakum dan mungkin juga bubar karena pentolan utamanya, Ahmad Dani, terjun ke panggung politik.
Menilik Dewa 19 hampir serupa dengan Gigi Band dari aspek personilnya. Dewa 19 memiliki personil yang beragama non muslim. Sebelum Once menjadi vokalis, Ari Laso sebagai posisi vokalis. Kedua-duanya beragama Kristen Protestan.
Ari Laso dengan terpaksa dikeluarkan lantaran ketergantungan pada narkoba, lalu Dewa 19 merekrut Once alias Elfonda Mekel. Setelah beberapa tahun sebagai vokalis, Once mengajukan pengunduran diri dan memilih untuk bersolo karier. Sejak itu band yang berdiri sejak tahun 1986 ini vakum. Para personil memilih jalan masing-masing untuk melanjutkan karya musiknya – pengecualian Ahmad Dani yang memperlihatkan ketertarikannya pada dunia politik.
Baik Gigi maupun Dewa 19 memiliki nama besar. Masing-masing memiliki fans sejati. Segmen pasar pun terdiferensiasi. Namun, soal kekompakan atau soliditas, Gigi Band masih menggungguli Dewa 19. Nilai kerukunan antar personil beda agama nyaris pudar dengan terdepaknya Ari Lasso, kemudian disusul oleh Once.
Tentu di usia ke-23 tahun ini, Gigi Band telah menjadi “rumah kecil” atau simbol toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Seorang Dewa Bujana yang beragama hindu hidup langgeng dengan sesama personil yang muslim.
Toleransi yang paling nyata adalah sikap saling menghargai atas keputusan Dewa Bujana untuk tidak terlibat atau absen dalam pembuatan album rohani “Mohon Ampun”. Budjana sama sekali tak masuk ke cover album ‘Mohon Ampun’ tersebut. (Baca: Dewa Budjana Absen di Album Religi GIGI)
“Memang kebetulan sudah punya jadwal. Kita menghormati ya ini ngisi additional,” ucap Armand dalam jumpa pers atas absennya Dewa Bujana dalam album religi.
Sikap Armand Maulana mencerminkan pribadi yang matang secara iman. Mereka pandai menempatkan diri dan menarik batas yang tegas antara profesionalitas dan keimanan. Sehingga apapun keputusan Dewa Bujana, mereka menghargainya sebagai keputusan atas dasar keimanan pula. Siapapun, termasuk personil Gigi Band tidak bisa membantahnya.
Pada titik ini, FPI dan Habieb Rizieq, dkk bisa belajar dari seorang Armand Maulana dkk yang tidak bergelar agama apalagi
Selamat Merayakan Hari Nyepi Tahun Baru Saka 1935 kepada Dewa Bujana dan Umat Hindu Se-Indonesia. Teruslah berkarya di tengah perbedaan dalam kebhinekaan Indonesia.




































