Matanurani, Jakarta – Bank Indonesia (BI) diminta tidak menghamburkan cadangan devisa untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. Sebab kinerja ekspor Indonesia, sebagai salah satu sumber penerimaan devisa, belum optimal.
Oleh karena itu, bank sentral diharapkan menggunakan instrumen lain, terutama penaikan suku bunga acuan, untuk meredam tekanan depresiasi terhadap rupiah.
Pada perdagangan Jumat (4/5), nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,04 persen dibandingkan hari sebelumnya, menjadi 13.945 rupiah per dollar AS.
Sementara itu, kurs rupiah, menurut kurs tengah BI, menguat menjadi 13.943 rupiah dari posisi hari sebelumnya di 13.965 rupiah per dollar AS. Sepanjang pekan ini, kurs rupiah di pasar spot telah terkikis 0,37 persen.
Terkait cadangan devisa, peneliti Indef, Bhima Yudhistira, mengatakan posisi cadangan devisa (cadev) April 2018 bisa merosot sampai tiga miliar dollar AS menjadi 123 miliar dollar AS karena kebijakan BI yang agresif mengintervensi rupiah.
“Menurunnya cadangan devisa menjadi sinyal bahwa BI tidak bisa terus-menerus intervensi dengan korbankan devisa. BI harus lebih kreatif, salah satunya menaikkan suku bunga acuan BI-7 Day Repo Rate sebesar 25–50 basis poin,” kata dia, di Jakarta, Jumat (4/5).
Menurut Bhima, tekanan terhadap rupiah dipastikan terus meningkat menjelang rapat Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve pada Juni mendatang. Di sisi lain, kualitas cadev juga berkaitan dengan kinerja ekspor yang belum optimal.
Komoditas ekspor unggulan minyak kelapa sawit (CPO) sepanjang Januari–Maret 2018 menyusut sekitar 17 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya karena kenaikan bea masuk impor yang diterapkan India.
Bhima menambahkan, menyusutnya cadev berpotensi menurunkan kepercayaan pelaku usaha terhadap rupiah.
Pengusaha akhirnya akan lebih suka memegang dollar, dan ini akan menjadi sentimen negatif. Apalagi, saat ini rasio cadev terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia termasuk yang terendah di Asia Tenggara.
“Bahkan, dengan Thailand dan Filipina kita kalah. Padahal, cadev itu ibarat buffer untuk menjaga stabilitas moneter. Kalau cadev terus turun, kemampuan untuk stabilisasi nilai tukar juga berkurang,” jelas dia.
Bhima menilai jika dibutuhkan BI harus bisa merespons kenaikan bunga The Fed dengan menaikkan bunga acuan. Bank sentral di Malaysia dan Singapura sudah lebih dulu meningkatkan bunga acuan.
Oleh karena itu, kenaikan BI-7 Day Reverse Repo Rate diharapkan bisa meningkatkan return aset investasi dalam rupiah, dan menahan laju keluarnya dana asing (capital outflow) “Sebaliknya, jika BI terlambat naikkan bunga acuan maka rupiah rentan terus melemah dan cadev akan terus tergerus,” tukas dia.
Sebelumnya, BI mengungkapkan era suku bunga murah atau rendah sudah selesai. Saat ini, sistem moneter dunia terus berkembang dan kondisi ekonomi global memengaruhi kebijakan moneter secara keseluruhan.
“Dunia sudah semakin yakin sistem moneter tengah berkembang. Dunia juga memahami era bunga murah sudah ditinggalkan,” ujar Gubernur BI, Agus Martowardojo, Kamis (3/5). “Sekarang eranya bunga tinggi.
Apalagi kenaikan bunga acuan AS bisa lebih dari tiga kali,” imbuh Agus. BI saat ini masih mempertahankan suku bunga acuan, BI-7 Day Reverse Repo Rate, di posisi 4,25 persen sejak September tahun lalu.
Di sisi lain, Bank Sentral AS pada Maret lalu menaikkan suku bunga acuan, Fed Fund Rate (FFR), sebesar 0,25 persen menjadi 1,5–1,75 persen. Namun, The Fed pada sidang kemarin masih mempertahankan posisi FFR.(Koj).





































