“Sebagai WAGUB Yang Tak Dianggap,
Aku Hanya Bisa Mencoba Mengalah,
Menahan Setiap Amarah”
Tertawa. Itulah reaksi saya saat melihat kurangnya koordinasi antara Eep Saefulah dan Sandiaga Uno terkait absennya Paslon 3 di debat jilid Rosi, Kompas TV. Mas Sandiaga yang ganteng dan mancung ini, tampak konyol, karena ia seperti tak dianggap. Mirip dengan lagu Pingkan Mambo di atas.
Saya tertawa membayangkan reaksi Mas Sandiaga Uno, saat statement-nya pada pukul 16.30 di Kompas masih menyatakan akan hadir di debat. Padahal netizen sudah mendapatkan pesan Whatssapp yang beredar pada jam-jam sebelumnya bahwa Paslon 3 tidak akan hadir di acara Rosi. Dengan dalih tidak ingin membuat semakin panas, Eep meminta format acara diganti atau mereka tidak akan hadir. Sandiaga pun menjadi the last to know alias orang terakhir yang tahu.
Kalau ibarat rumah tangga, Sandiaga itu bagai istri yang tidak tahu bahwa suami dan keluarganya batal datang kondangan. Sandiaga, bagai istri yang mantap berdandan. Pakai konde dan sasakan. Nunggu di-make up selama 2 jam di salon. Begitu siap sedia berangkat kondangan, Eh, tetangga sebelah tanya: “Nggak jadi kondangan, ya, jeng Sandi?” Maka ia pun bingung. Ternyata, sopir dan penjaga rumah yang mengkoordinir pasangan suami istri ini membuat keputusan BATAL HADIR tanpa mengabari nyonya rumah.
Saya hanya tertawa geli. Jika saya adalah Sandiaga Uno, pasti saya akan banting HP dan maki-maki si Eep yang kurang koordinasi, plus, saya di-fait accompli. Bikin malu saja! Tiwas mantep siap-siap, latihan debat, konfirmasi ke media sana-sini. Eh, batal! Sebagai sesama nyonya rumah yang sering kondangan, saya paham sekali situasimu, Jeng, eh, Mas Sandi.
Belakangan beredar kabar, bahwa Sandiaga Uno marah-marah, karena dia banyak mengalah. Sudah paling banyak keluar uang, tapi perannya sedikit sekali. Bahkan hampir bisa dikatakan dalam bahasa Jawanya adalah Timun Wungkuk Jaga Imbuh alias buat penambah suasana biar Anies tidak sendiri.
Bintangnya tetap Anies. Ibarat dalam film, Batmannya tetap Anies. Sandiaga? No! Bukan Robin. Lebih parah, Sandiaga itu bagai Alfred Thaddeus Crane Pennyworth. Pembantu Bruce Wayne (Batman) yang nyiapin semuanya, repot semuanya, tapi nggak dapat kredit. Robin itu ya si Eep, lincah main dimana-mana dan mem-back up serangan politik.
Dari pengamatan bola Kristal, saya memang melihat ada beberapa kejanggalan tentang posisi Sandiaga Uno ini yang mirip bandar uang tapi dilangkahi sama office boy. Berikut beberapa kronologis yang saya tangkap:
- Sandiaga lemah saat debat
Sandiaga ini seperti tengah disembunyikan. Terutama saat debat. Terlihat sekali kesempatan diberikan dengan porsi sangat besar pada Anies Baswedan. Saya menduga bahwa hasil evaluasi timses memperlihatkan bahwa Sandiaga ini lemah ber-retorika.
Dari bahasa tubuh, Sandiaga terlihat ragu-ragu menjawab. Lalu, dari tone suara-nya yang lemah menggambarkan kurangnya wibawa dan keyakinan berbicara. Mungkin, kalau Sandiaga ini dilatih vokal oleh Mbak Bertha atau Trie Utami, mereka akan lempar kursi sama-sama, sambil teriak, “Power-nya mana?!!?”
Selain itu, dalam positioning oratorio, Sandiaga ini sulit kita lokasikan keunikannya. Sebagai contoh: Anies. Biar bagaimanapun, ia memiliki kelihaian memilih kata yang juxtapose alias berironi. Misalnya “Pemimpin stabil, bukan pemimpin labil.” Bagi saya, sebagai pengamat retorika politik, kata-kata ini sangat mudah diingat, sekaligus upper cut yang cukup jitu untuk mendeskripsikan Ahok. Kalau saya copy writer Sabun Al Maidah besutan istri Anies Baswedan, mungkin akan saya buatkan iklan, “Sabun Al Maidah, bersih dan halal. Dengan sabun Al Maidah, dapatkan kecantikan yang stabil, bukan kecantikan labil.” Untungnya, saya bukan pengiklan kubu Anies.
Lalu, Ahok pun tidak kalah otentik dalam berbagai kesempatan. Dia sangat pintar berbicara bahasa operasional, detail, dan terlihat pintar berhitung. Saya membayangkan Ahok seperti koko-koko yang jualan di toko besi. “Berapa harga besi ndek sana, Koh?”tanya saya dalam angan. Ahok pun dengan kacamata melorot menghitung dengan baik, “Kalau situ mau beli rumah ndek sana, 350 juta, dikalikan 1 juta saja, jadinya 350 triliyun. Uangnya darimana?” Saya pun percaya dengan hitungannya yang akurat ala koko-koko jualan besi. Niat beli besi di toko Anies pun saya batalkan. Saya pilih beli di koko Ahok yang hitungannya rasional dan akurat. Selain itu, kata-kata seperti “Saya tidak mau berbohong demi menjadi Gubernur,” memberikan positioning oratorio yang nendang juga di kalangan pendengar.
Sebagai kandidat yang paling tua, Pak Djarot mengambil peran sebagai orang Jawa yang berbicara dengan lambat, sabar, dan bijak. Tetapi, berperan seperti lebah yang kadang nylekit kalau sudah nungging di suatu isu. Misalnya, saat pak Djarot nyinyir mengenai isu soal menteri yang diberhentikan alias dipecat.
Lha, Sandiaga dimana? Itu dia. Tampaknya Sandiaga pun tidak tahu positioning oratorio-nya dimana. Pada beberapa kesempatan debat yang lalu, Sandiaga hanya kedapatan kesempatan jualan OK OCE. Pertanyaan moderator adalah tentang narkoba, jawabannya OK OCE. Duh, kayak nggak ada bahan ngomong aja Mas Sandi. Kayak iklan saja: “Apapun masalahnya, jawabannya OK OCE!” Sambil sruput teh Ok Oce untuk menyaingi Kopi Denny Siregar.
- Modal untuk Kampanye sedikit dibanding Kekayaannya
Menurut saya, Sandiaga ini memang modal terbesarnya adalah uang. Kita semua tahu 65 Milyar untuk ronde ini, bukan daun, tapi uang beneran. Tetapi, uang ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan kekayaan Sandiaga Uno yang super sekali. Pada tahun 2007 Sandi dinobatkan menjadi 122 orang terkaya di Indonesia versi majalah Asia Globe dengan total aset perusahaan mencapai 80 juta dollar AS. Pada 2008 ia dinobatkan menjadi orang terkaya ke-63 di Indonesia dengan total aset 245 juta dollar AS.
Nah, kalau anda miskin dan kere seperti saya, gambarannya begini. Anda punya uang sebesar 245.000 rupiah. Untuk kampanye ini, Anda hanya mengeluarkan uang 6.500 rupiah saja. Kecil bukan? Tidak sampai 10% kekayaan Anda, bahkan hanya sebesar zakat alias 2,5% saja, Sodara-Sodara! Jadi jika ada Ahokers yang bilang uang yang dikeluarkan Sandiaga begitu besar, itu bohong! Kata-kata itu hanya bagi mereka yang kere dan miskin kayak Ahokers yang nggak pernah lihat dan punya uang 1 M. Bagi Sandiaga, uang 65 M itu hanya 2.5% dari kekayaannya. Nothing! #Sambilkibasrambut
Jadi, jangan heran, kalau bagi tim internal paslon 3, kekayaan Sandiaga ini bagai curug penghasil emas. Mereka mengais-ngais beberapa perak dari Sandiaga, karena mereka tahu, keuangan dan aset Sandiaga itu besar sekali. Mereka pun punya pembenaran untuk melakukan fait accompli pada Sandiaga. Itu hal biasa. Tidak usah heran. Uang Sandiaga tanpa human resources dan mesin-mesin partai di masjid itu tak ada nilainya. Maka, bargaining powerdari Sandiaga soal uang pun bisa dimentahkan dengan mudah.
- Sandiaga Terbelit Masalah di Perusahaannya
Nah, ini yang lebih heboh belakangan ini. Melalui berita tempo, maka Anda akan tahu Sandiaga punya bisnis di berbagai sektor. Seperti informasi dari TEMPO berikut ini. Belum termasuk di perusahaan dimana Sandiaga sebagai komisaris atau wakil CEO.
Sayangnya, tidak semua bisnisnya itu bersih. Ada beberapa yang tersangkut kasus di Mahkamah Agung. Google saja: Real Capital dan kasus wanprestasinya di Mahkamah Agung. Lalu, juga kasus-kasus yang menyangkut klaim 600 rumah sakit yang tidak diurus di perusahaannya. Ada pula, temannya yang kabur ke luar negeri.
Ah, memang Sandiaga ini HORANG KAYA. Tapi juga HORANG banyak masalah.
Sebagai warga negara yang rasional, saya hanya berpikir, apakah tidak mungkin Sandiaga nantinya bermain proyek di semua sektor ini saat jadi pejabat publik? Bagaimana seandainya tender-tender proyek jatuh di perusahaannya yang ada dimana-mana?
Jangan sampai, Sandiaga nanti menjadi Midas, yang mengubah program kerja Wagub menjadi emas untuk dirinya sendiri. Ingat, Ahok berhutang dengan masyarakat, tapi Anies berhutang pada Sandi.
Duh, ruwet!
Nah, karena berbagai masalah bisnis ini jugalah, Sandiaga tampaknya harus menghadapi sendiri. Sementara timsesnya sibuk hura-hura untuk menambal bolong-bolong blunder Anies.
Maaf ya, Jeng, eh, Sis, eh Mas Sandi. Sebagai sesama nyonya rumah yang pegang duit dalam bahtera pasangan hidup, saya sih, bakal lebih pelit lagi ke depannya. Biar uang saya nggak hangus begitu saja, tapi saya nggak dapat apa-apa. Mari pasang kondemu dan kencangkan ikat pinggang, tunjukkan “Siapa yang pegang uang, harusnya dia yang pegang kendali!”




































