Matanurani, Jakarta – Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN), yang dipimpin oleh Ketua KEIN Soetrisno Bachir bertemu Presiden Joko Widodo di istana Merdeka Jakarta, Selasa (28/8).

Dalam pertemuan tersebut KEIN mendapatkan arahan dari Presiden bahwa fokus kebijakan pada saat ini adalah mengambil langkah-langkah antisipatif terhadap pelemahan kurs dan peningkatan defisit transaksi berjalan.
“Intinya Presiden memberi arahan bahwa fokus kebijakan saat ini adalah mengambil langkah-langkah antisipatif terhadap pelemahan kurs dan peningkatan defisit transaksi berjalan,” kata Ketua Pokja KEIN untuk Penyusunan Roadmap Industrialisasi 2045, Benny Pasaribu kepada Matanurani di Jakarta, Sabtu (1/9).
Dalam pertemuan dengan Presiden tersebut kata Benny, KEIN juga membahas tentang langkah-langkah antisipatif terbaik yang perlu segera diambil. Di antaranya adalah melanjutkan langkah stabilisasi yang telah diambil oleh Bank Indonesia serta mendorong ekspor dengan mempermudah perijinan dan pemberian insentif.
Kemudian mendorong substitusi impor dengan memberikan berbagai insentif dan kemudahan, terutama untuk meningkatkan TKDN (komponen dalam negeri),
penerapan program B20, dan industri barang konsumsi termasuk kemungkinan memberikan tax holiday yang lebih longgar jangka waktu dan tarifnya.
Selain itu adalah mengendalikan impor, terutama barang konsumsi. Sedangkan untuk impor bahan baku perlu dilakukan secara selektif, terutama untuk mempermudah industri berorientasi ekspor. Dan impor barang modal tetap perlu dipermudah sepanjang tidak merugikan produk dalam negeri.
Dalam kesempatan itu, KEIN juga membahas perlunya ditingkatkan koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riel.
“Dampak dari pelemahan kurs dan perang dagang antara AS dan China perlu diantisipasi karena selain tantangan juga ada beberapa peluang bisnis bagi Indonesia,” sebut Benny.
Disamping itu Presiden juga menerima masukan KEIN menyangkut pengembangan produk unggulan daerah yang sering tidak menjadi prioritas baik dalam RKP (Rencana Kerja Pemerintah) dan RPJM (Rencana Pemerintah Jangka Menengah) Daerah dan Nasional, seperti produk budaya, produk pertanian, serta kerajinan daerah.
Produk unggulan pertanian misalnya seperti Kopi Gayo di Aceh, Lada di Babel, Pala di Maluku, Cacao di Sulawesi, Singkong di Lampung, Sagu dan buah Merah di Papua, dan sebagainya.
KEIN meyampaikan bahwa produk-produk unggulan daerah terbukti sangat kuat daya saingnya di pasar ekspor. Oleh karenanya, sambung Benny, Roadmap Industrialisasi yang diajukan oleh KEIN pada intinya adalah fokus pada 4 sektor industri prioritas, yakni Agroindustri (makanan dan minuman, dsb), Industri Kemaritiman, Industri Pariwisata, dan Industri kreatif dan budaya.
“Keempat industri ini perlu dikembangkan dengan pendekatan hilirisasi, klasterisasi, dan kawasan ekonomi khusus,” jelas Benny.
Terakhir sambung Benny pembahasannya adalah mengenai ikhtiar untuk pengurangan kemiskinan di pedesaan. Dalam hal ini, Presiden telah berhasil mengangkat taraf hidup dan kesejahteraan penduduk desa. Tingkat kemiskinan terus menurun secara signifikan terutama di pedesaan.
“Artinya dana-dana desa, KUR, KIP, KIS, dan bantuan lainnya telah berhasil dimanfaatkan oleh masyarakat secara tepat sasaran, meskipun terdapat beberapa kasus penyalahgunaan dananya. Dan dana-dana desa ini diharapkan dapat ditingkatkan untuk tahun – tahun mendatang,” pungkas Benny, Doktor Ekonomi lulusan Ottawa University, Kanada itu. (Smn).





































