Matanurani, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan inflasi inti pada Juli 2018 menunjukan meningkatnya daya beli masyarakat. Pada Juli 2018, komponen inflasi inti tercatat sebesar 2,87% (yoy) atau tertinggi sepanjang tahun.
“Kalau dilihat, inflasi inti ini tertinggi sepanjang tahun. Inflasi inti naik kan sebuah pertanda daya beli (meningkat),” kata Kepala BPS Suhariyanto, dalam sebuah konferensi pers, di Kantor Pusat BPS, Jalan Dr Sutomo, Jakarta Pusat, Rabu (1/8).
Dirinya menambahkan kenaikan inflasi inti disebabkan oleh naiknya harga tarif pulsa, khusunya paket internet yang menyumbang 0,04% pada inflasi Juli. Selain itu, juga adanya tahun ajaran baru pada Juli yang membuat kenaikan harga uang sekolah.
Menurut data BPS inflasi inti pada Januari 2018 tercatat sebesar 2,69% (yoy), Februari 2018 sebesar 2,58% (yoy), Maret sebesar 2,67% (yoy), April sebesar 2,69% (yoy), Mei sebesar 2,75% (yoy), dan Juni sebesar 2,72% (yoy).
“Sekarang (inflasi inti) tinggi, pertanda daya beli membaik. Bisa dilihat ritel mulai bergeliat. Tapi angka itu enggak bisa kami sampaikan di sini, rilis resmi nanti tunggu pekan depan,” jelas dia.
Perkembangan harga selama Juli 2018 mengalami inflasi sebesar 0,28%. Inflasi secara tahun kalender (ytd) tercatat sebesar 2,18%. Sementara secara tahun ke tahun (yoy) inflasi tercatat sebesar 3,18%.
Selain inflasi inti, komponen penyumbang inflasi lainnya yaitu harga pangan bergejolak (volatile food) 5,36% (yoy) dengan andil 0,9% dan harga yang diatur pemerintah (administered price) 2,11% (yoy) dengan andil 0,68%. (Mei).




































