Home Nasional BNPT: Survei Pemahaman Radikalisme di Dunia Pendidikan Mengkhawatirkan

BNPT: Survei Pemahaman Radikalisme di Dunia Pendidikan Mengkhawatirkan

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Pemahaman Radikalisme di dunia pendidikan mssih sangat Mengkhawatirkan.Berdasarkan hasil riset dan penelitian Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Ciputat yang dilakukan oleh Bambang Pranowo pada tahun 2011, ada sebanyak 50 % pelajar yang setuju dengan adanya kekerasan. Bahkan, 25 % pelajar dan 21 % guru mengatakan, bahwa Pancasila sudah tidak relevan lagi.

“Ini sudah sangat mengkhawatirkan, padahal pemahaman radikalisme dimulai dari sini,” kata Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol. Hamidin, Jakarta, Selasa (16/5).

Dia mengungkapkan,ada sekitar 84 % pelajar dan 21 % guru yang menginginkan setuju penegakan Syariat Islam. Bahkan, lanjutnya, sekitar 14 % setuju dengan melakukan kekerasan dengan menggunakan bom.

Hamidin mengatakan, untuk mengatasi pemahaman radikalisme yang ada di masyarakat, BNPT punya mitra strategis, yakni Forum Komunikasi Penanggulangan Terorisme (FKPT), di dalamnya adanya unsur tokoh budaya, masyarakat, agama, wanita dan pelajar.

“FKPT perpanjangan tangan kita, dimana para tokoh tersebut adalah bagaimana kontra penyebab radikalisme di Indonesia,” ujarnya.

Diakui Hamidin, radikalisme terjadi pada saat proses menyeleksi orang masuk ke dalam pemahaman radikalisme itu sangat selektif dan tertutup.

“Pertama mereka lakukan kontak verbal, dengan pengajian kecil dan besar, kemudian mereka identifikasi diri, dan bentuk kelompok esklusif dalam kampus, dan kelompok yang direkrut sulit berkomunikasi, walau tahu sesama agama mereka tolak,” ucap mantan Kapolres Metro Jakarta Pusat itu.

Dia menuturkan, strategi yang dilakukan para penganut radikalisme adalah kontraktif, dengan memilih dan menyeleksi para pelajar yang disasar untuk menjadi bagian dalam aktivitasnya.

“Kedua mereka membuat forum media sosial seperti chatting, Whatshap, Facebook, Twitter, dan ada yat hadis yang disebarkan kepada sesama mereka,” ucapnya.

Dia mengatakan, bukan hanya pelajar saja yang terpapar akan paham radikalisme, tetapi mahasiswa juga terpengaruh paham tersebut.
“Kadan-kadang radikalisme bisa tumbuh dimana saja, juga di rumah kita, “ujarnya.

Dia mencontohkan, salah satu pelajar wanita berusia 13 tahun bisa terpengaruh dengan pemahaman radikal. Bahkan, ditegur kedua orang tuanya bahwa pemahaman agama anak itu sudah keliru dan mengarah radikalisme. Namun, kedua orang tuanya dikatakan kafir.

“Itu bukan sekedar cerita isapan jempol, tapi banyak terjadi karena terpengaruh oleh pemahaman radikal dari orang lain, karenanya perlu hati-hati,” tandasnya.

Ketika ditanya bagaimana BNPT mengantisipasi akan hal ini. Hamidin mengakui, bahwa lembaga anti terorisme bukan lembaga superman, dimana semua bisa diatasi lembaga tersebut. Kerenanya dalam mengatasi masalah pemahaman radikalisme, BNPT melakukan kerjasama dengan 31 lembaga kementerian, sehingga dapat mereduksi radikalisme.

“Kami melakukan mediasi dan dialog di kampus dengan mahasiswa sehingga dapat menekan radikalisme,” katanya.

Selain itu, lanjut Hamidin, untuk menekan radikalisme bagi anak maka dibutuhkan orang tua yang perduli dalam memperhatikan anaknya, dengan membentuk kerjasama sesama orang tua dalam mengeliminir radikalisme yang berkembang.

“Memang dalam pemahaman teknologi antara orang tua dan anak makin jauh, dan anak semakin kompleks mengetahui masalah teknologi yang berkembang, karena itu untuk memonitor perkembangan anak maka dibutuhkan adanya komunikasi intensif antara orang tua dan anak,” ujarnya. (Ral)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here