Home Nasional 2019, Ekonomi Global Diprediksi Masih Dipengaruhi Perang Dagang

2019, Ekonomi Global Diprediksi Masih Dipengaruhi Perang Dagang

0
SHARE

Matanurani, Jakarta  – Kondisi perekonomian global pada 2019 mendatang diperkirakan masih akan dibayangi dampak dari dinamika perang dagang, antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Hal itu dikemukakan pengamat Pasar Modal dari Asosiasi Analis Efek Indonesia atau AAEI, Reza Priyambada, dalam keterangan tertulis, Jumat, (28/12).

Menurut Reza, potensi perang dagang itu masih ada seiring dengan sikap kedua petinggi negara, baik AS maupun Tiongkok yang belum terlihat melunak.

Dalam G-20 Summit yang mempertemukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, untuk membahas kerja sama perdagangan lebih lanjut beberapa waktu lalu, keduanya hanya melakukan kesepakatan terkait penundaan untuk pengenaan tarif impor. Alih-alih mencari solusi penyelesaian perang dagang tersebut.

“Akibatnya industri dan manufaktur di kedua negara tersebut melemah yang berujung pada melambatnya pertumbuhan ekonomi. Jika kondisi ini terus berulang maka bukan tidak mungkin akan memengaruhi perkembangan ekonomi global,” kata Reza.

Lantaran itu, persepsi akan kekhawatiran melambatnya ekonomi global pun akan memengaruhi para pelaku pasar secara psikologis yang pada akhirnya akan membuat aksi jual kerap terjadi.

Apalagi, lanjut Reza, tahun 2019 mendatang, sejumlah kebijakan The Federal Reserve pun masih menjadi perhatian dan penantian dari para pelaku pasar keuangan global.

“Di 2019 menjadi penentuan apakah The Fed akan kembali menaikkan suku bunganya sebanyak 2-3 kali, atau masalah personal Presiden Trump dan Gubernur Powell yang akan lebih ditonjolkan,” ujarnya.

Di satu sisi, perkembangan ekonomi Tiongkok  harus menjadi perhatian para pelaku pasar keuangan. Hal itu mengingat Tiongkok tidak hanya menjadi bagian dari negara-negara besar dan berpengaruh. Melainkan juga sebagai mitra dagang utama Indonesia yang memiliki nilai perdagangan terbesar di antara negara-negara lainnya.

“Apabila sesuatu hal negatif terjadi pada ekonomi Tiongkok maka reaksi pelaku pasar cenderung negatif. Masalahnya ekonomi Tiongkok memang sedang melambat, selain karena memang didesain untuk tidak melaju pesat, juga agar tidak hardlanding dengan adanya imbas dari perang dagang dengan AS,” kata Reza.

Di sisi lain, kebijakan bank sentral Tiongkok, People’s Bank of China (PboC) juga harus menjadi perhatian. Sebab,  mereka juga bisa melakukan sesuatu hal yang mengejutkan pasar alih-alih untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Tiongkok. “Entah itu melakukan devaluasi Yuan untuk meningkatkan ekspornya, memangkas suku bunga atau bahkan hal lain,” (Viv).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here