Home News KEIN Gelar FGD Bahas Produk Industri Kehutanan

KEIN Gelar FGD Bahas Produk Industri Kehutanan

0
SHARE
FGD KEIN Bahas Produk Industri Kehutanan

Matanurani, Jakarta – Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) menggelar Fokus Group Diskusi (FGD) bersama para stakeholder produk industri kehutanan dalam rangka  memperkaya penyusunan roadmap industrialisasi kehutanan berbasis perkayuan.

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Pangan KEIN, Benny Pasaribu dalam pengantarnya  mengatakan sektor kehutanan masih memiliki tantangan mulai dari ketersediaan bahan baku ketidakpastian status areal dalam pemanfaatan hutan produksi, hingga integrasi hulu-hilir yang masih lemah.

“Sektor kehutanan perlu didorong untuk menjadi sektor unggulan strategis melalui industrialisasi sebagai masa depan industri kehutanan Indonesia,” kata Benny dalam FGD KEIN, di Jakarta, (31/10).

Misalnya, lanjut Benny dengan meningkatkan dan memanfaatkan ketersediaan bahan baku terutama dari hutan tanaman serta dari sumber lain yang berkelanjutan untuk menghidupi industri itu sendiri. Merevitalisasi dan merestrukturisasi industri perkayuan agar kompetitif. Mengembangkan produk-produk yang bernilai tambah tinggi agar memiliki daya saing

Hadir dalam kesempatan tersebut, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada, Prof M Naiem,  Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Bambang Widyantoro, dan Ir David pemerhati produk industri kehutanan.

Seperti diketahui luas kawasan hutan saat kini mencapai 126.08 juta hektar, dan 55% atau 68.99 juta hektarnya dimanfaatkan sebagai hutan produksi, sedangkan 27,42 juta hektar atau 22% dimanfaatkan sebagai hutan konservasi dan 29, 67 juta hektar dimanfaatkan sebagai hutan lindung.

Dari total 68.99 juta hektar hutan produksi itu, 29.25 juta hektar dimanfaatkan sebagai hutan produksi tetap (HP), 26.80 juta hektar hutan produksi terbatas, dan 12.94 juta hektar hutan produksi yang dapat dikonversi.

Dari kawasan hutan produksi atau alam tersebut, (hulu), khususnya kayu semuanya diarahkan ke (hilir) untuk dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku (round logs) industri plywood, kayu gergajian (sawn timber), particle board, pulp dan kayu serpih.

Sedangkan dari kawasan hutan lindung dan hutan wisata atau hasil hutan bukan kayu (hulu), dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan/ kosmetik,  pangan seperti sagu dan coklat,  bio energi (aren), pakan ternak, hingga eko wisata (hilir).

Secara garis besar pemanfaatan hasil hutan diatas tentunya sangat strategis untuk mendukung industri kayu dan bukan kayu di Indonesia khususnya pada hutan produksi ke depan. (Smn).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here