Matanurani, Jakarta – Bank Sentral yakin perekonomian Indonesia pada triwulan I-2018 akan tumbuh lebih baik dari triwulan yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi pun akan didorong oleh investasi dan konsumsi pemerintah yang meningkat, konsumsi swasta yang stabil, dan kinerja ekspor yang tetap positif.
Peningkatan investasi terutama terjadi pada sektor konstruksi seiring penyelesaian proyek infrastruktur dan pada sektor primer dengan meningkatnya permintaan eksternal. Konsumsi swasta tumbuh stabil didukung daya beli masyarakat yang terjaga dan peningkatan pengeluaran terkait Pilkada.
“Konsumsi pemerintah meningkat dengan adanya akselerasi penyaluran bansos dan dana desa. Dari sisi eksternal, ekspor diperkirakan tumbuh positif dipengaruhi peningkatan pertumbuhan ekonomi dunia,” tulis Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman dalam keterangan tertulisnya, Kamis (22/3).
Sementara itu, impor juga diperkirakan meningkat khususnya terkait kebutuhan investasi dan ekspor yang memiliki konten impor tinggi. Dengan perkembangan tersebut, untuk keseluruhan tahun 2018, perekonomian Indonesia diprakirakan tumbuh pada kisaran 5,1-5,5% (yoy).
Selain itu, dia mengatakan defisit neraca perdagangan juga mengalami penuruna menjadi USD120 juta dari sebelumnya USD760 juta pada Januari 2018. Secara kumulatif Januari-Februari 2018, neraca perdagangan Indonesia tercatat defisit USD870 juta.
Defisit neraca perdagangan, tidak terlepas dari peningkatan kegiatan produksi dan investasi di perekonomian domestik yang terus membaik, sehingga mendorong kenaikan impor nonmigas terutama impor bahan baku dan barang modal. “Sementara itu, aliran masuk modal asing sampai Februari 2018 mencapai USD300 juta, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” jelasnya.
Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia akhir Februari 2018 tercatat sebesar USD128,06 miliar setara dengan pembiayaan 8,1 bulan impor atau 7,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
“Ke depan, sejalan dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi domestik, defisit transaksi berjalan pada 2018 diperkirakan dalam kisaran 2,0-2,5% dari PDB, atau masih tetap terkendali dalam batas yang aman yaitu tidak lebih dari 3% dari PDB,” tutur dia.(Oke).





































