Home News Ekonomi Digital Jangan Makin Suburkan Impor

Ekonomi Digital Jangan Makin Suburkan Impor

0
SHARE
Ekonom Indef, Bhima Yudhistira

Matanurani, Jakarta – Perkembangan ekonomi berbasis digital di Indonesia diprediksi menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi di tahun- tahun mendatang. Akan tetapi, ada sejumlah tantangan yang mesti diatasi agar perkembangan ekonomi digital itu mampu mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkualitas dan berkelanjutan.

Tantangan itu terutama perdagangan digital yang sekitar 90 persen masih didominasi produk impor, dan munculnya isu ketenagakerjaan. Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, mengemukakan pemerintah memperkirakan potensi ekonomi digital Indonesia mencapai 130 miliar dollar AS pada 2030.

Memang ada beberapa keuntungan dari perkembangan ekonomi digital sehingga mampu mendukung pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. “Pertama, membuat arus distribusi dan produksi lebih murah karena rantai pasokanya bisa diakses melalui internet,” kata Bhima, di Jakarta, Minggu (17/12). Dengan begitu, lanjut dia, ekonomi digital bakal banyak dinikmati pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) karena cakupan ekonomi digital lebih luas.

Ekonomi digital juga berpotensi meningkatkan wirausahawan baru. Hal itu terbukti dengan pertumbuhan perusahaan rintisan (startup) baru yang masif. “Kewirausahan kita baru 3,1 persen dari total penduduk. Jadi dengan ekonomi digital, nantinya akan makin banyak anak muda yang terjun buka startup baru,” papar Bhima.

Meskipun memiliki sederet keuntungan, lanjut dia, perkembangan ekonomi digital dengan perdagangan elektronik (e-commerce) sebagai penopangnya juga bakal memunculkan isu-isu ketenagakerjaan. Menurut Bhima, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal tidak terelakan lantaran tugas pekerja digantikan oleh mesin.

“Apalagi tenaga kerja kita kebanyakan lulusan SMK/SMA ke bawah. Padahal, yang dibutuhkan di ekonomi digital lebih yang high skill. Jadi ada gap skill di sini, sehingga akan menjadi persoalan,” kata dia. Risiko lain, ungkap Bhima, sekitar 95 persen barang ecommerce berasal dari impor. Dominasi impor itu semakin diperkuat oleh data impor konsumsi Januari-November 2017 yang naik 15 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Artinya, ini bisa membuat kebergantungan kita kepada produk- produk impor makin tinggi. Dan, kalau dibiarkan produsen lokal akan tergerus dengan ekonomi digital ini,” tegas dia. Menurut Bhima, agar supaya perkembangan ekonomi digital mampu mendukung pertumbuhan berkualitas dan berkelanjutan maka arah pembangunan ke depan adalah substitusi impor.

Sebab, arus importasi yang besar akan mematikan industri dalam negeri yang pada ujungnya PHK massal. “Tinggal mendorong UMKM untuk memproduksi barang yang berkualitas. Dan, harus ada industrialisasi terutama untuk memproduksi barang jadi. Jadi ada substitusi impor,” kata dia.(Koj).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here