MENUTUP Tahun 2017 yang akan berakhir beberapa jam ke depan, tentunya kita telah banyak menyaksikan keberhasilan dan capaian yang telah diukir oleh pemerintahan Jokowi- JK.
Pencapaian paling signifikan dari pemerintahan Presiden Jokowi-JK adalah antusiasme dalam membangun sederet sektor yang nyata dan menyentuh terhadap kepentingan bangsa dan keberpihakan pada masyarakat umumnya.
Lihat saja ekonomi Indonesia masih tumbuh sekitar 5% per tahun dan rasio utangnya masih jauh dibawah 30 % dari Produk Domestrik Bruto (PDB). Dan, kondisi ini jauh masih rendah dibanding negara-negara tetangga yang sudah mendekati 100 %, bahkan ada diatasnya.
Selain itu neraca perdagangan juga terus mengalami surplus walaupun impor juga terus meningkat. Artinya nilai ekspor jauh lebih besar dari pada impor. Nilai impor Indonesia pada November 2017 telah mencapai US$ 15,15 miliar atau naik 6,42% dibandingkan Oktober tahun lalu, dimana terjadi lonjakan impor barang modal khususnya permesinan. Dengan kata lain peningkatan impor menunjukkan adanya pertumbuhan industri yang lebih baik di tahun 2018.
Selain itu kondisi harga pangan tetap stabil, sejumlah infrastruktur bandara, jalan dan jembatan telah selesai, ribuan MW pembangkit listrik telah selesai hingga terjadi sekarang surplus pasokan listrik, dan pertumbuhan investasi yang sangat tinggi. Semua itu patut kita syukuri dan kita rasakan denyutnya sampai ke seluruh daerah di nusantara.
Memasuki tahun 2018, rasa optimisme itupun kembali membara dan semakin meyakinkan kita untuk menatap Indonesia untuk menjadi lebih baik lagi.
Prospek ekonomi Indonesia tahun 2018 akan semakin cemerlang dari pada tahun 2017.
Volume dan nilai perdagangan dunia akan lebih tinggi tahun 2018 seiring dengan pertumbuhan ekonomi AS, China, dan Uni Eropa, India, Jepang, Korea, dan Asia Tenggara. BUMN Indonesia akan tumbuh lebih tinggi sejalan dengan percepatan pembangunan infrastruktur dan iklim investasi yang semakin membaik.
Namun tahun 2018 tentu tidak lepas dari berbagai tantangan. Tahun politik yakni Pilkada 2018 dan persiapan Pemilu 2019 dapat berpotensi mengganggu iklim investasi apabila tidak berjalan sesuai peraturan yang ada. Stabilitas politik dan keamanan perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan lembaga penegak hukum.
Ke depan, kita berharap agar persoalan kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan perlu mendapat perhatian lebih besar.
Pembangunan infrastruktur perlu fokus pada sektor industri, terutama yang menghubungkan dari sentra bahan baku yang diproduksi rakyat di pedesaan hingga ke kawasan industri dekat pelabuhan.
Kawasan industri berbasis produk lokal, seperti Sei Mangke harus diprioritaskan sehingga produk CPO yang 35 juta ton per tahun itu bisa diolah sebagian terbesar di dalam negeri menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Demikian juga sektor prioritas yang fokus pada industrialisasi Pariwisata, ekonomi kreatif, Maritim, dan pertanian dan kehutanan perlu terus didorong dan dikembangkan melalui industri hilirisasi berbasis klaster dan kawasan industri.
Di sektor sektor inilah rakyat kebanyakan mencari nafkah dan sekaligus menjadi gudang kemiskinan.
Dengan pertumbuhan industri yang inklusif dan berkeadilan akan memperkuat basis ekonomi bangsa pada tahun 2018 yang selanjutnya bisa mendorong ekonomi tumbuh di atas 7 persen per tahun. Ujungnya kita optimis tahun 2045 Indonesia akan menjadi negara industri maju terbesar ke 4 dunia. Semoga!





































