Matanurani, Jakarta – Keberagaman dan nilai-nilai toleran yang diajarkan dalam agama Islam merupakan percontohan hidup damai di Indonesia. Meski dihuni beragam suku dan agama, kehidupan bermasyarakat di Indonesia berlangsung dengan harmonis.
“Rakyat yang jumlahnya lebih dari 258 juta jiwa, terdiri dari beberapa suku dan berbicara dengan berbagai dialek, menganut berbagai keyakinan dan agama. Meskipun demikian, mereka hidup dalam keadaan harmonis dan tenang tanpa adanya dengki, iri, dan bermusuhan, semuanya ikhlas dan loyal terhadap negaranya dan membangun demi kestabilan dan keamanan negara Indonesia,” kata Pangeran Kerajaan Arab Saudi Khalid Bin Abdul Aziz dalam silaturahmi dengan peserta Musabaqah Hafalan Alquran dan Hadits Pangeran Sultan bin Abdul Aziz Alu Su’uid Tingkat ASEAN dan Pasifik ke-8 tahun 2017 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (4/5/2017).
Menurut Khalid yang hadir sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Sosial Pangeran Sultan Kerajaan Arab Saudi, rakyat Indonesia merupakan contoh bagi negara Islam di dunia. Dia menegaskan Islam mengajarkan cara berdialog yang toleran dan tidak mengkafirkan orang lain.
“Rakyat Indonesia sungguh merupakan percontohan bagi negara-negara di dunia Islam, seyogianya harus mencontoh Indonesia. Rakyat Indonesia telah mengetahui bahwa Allah telah menciptakan hambanya merdeka, dan Islam telah menjamin bagaimana berdialog dengan cara yang toleransi dan berinteraksi secara baik, dan tidak mengkafirkan orang lain. Itulah rakyat yang patut kita contoh,” kata Khalid.
Untuk itu, kata Khalid, penyelenggaraan musabaqah Sultan bin Abdul Aziz untuk hafalan Alquran dan hadits tingkat ASEAN dan Pasifik ini memiliki 2 tujuan. Yakni mengikat generasi baru dengan kitab suci Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW serta memperkuat silaturahmi.
“Dan bagaimana melaksanakan ajaran-ajaran Islam toleran dan akhlak-akhlak yang baik. Dan menghafalnya serta merenunginya dan mempelajarinya dengan ilmu pengetahuan yang benar. Mereka itu adalah bagian dari pembangunan yang harus dikembangkan secara ekonomi dan sosial dan untuk mengejar ketinggalan peradaban dan kemajuan yang ada di dunia ini,” katanya.
(Det)





































