Matanurani, Bogor – Presiden Joko Widodo kembali mengingatkan bahwa energi bangsa ini terlalu banyak dihabiskan untuk berseteru dibanding bekerja.
Menurut Jokowi tujuan utama berbangsa dan bernegara bukan untuk berseteru atau bertikai tetapi tetapi untuk menciptakan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Hal ini disampaikan Jokowi usai menerima Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) tahun 2016 yang mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di Istana Kepresidenan, Bogor, Selasa (23/5).
“Kita banyak ngomong ketimbang bekerja di akhir-akhir ini. Banyak berdebat, ketimbang bekerja. Banyak saling menghujat ketimbang bekerja. Banyak demo-demo yang tidak bermanfaat ketimbang bekerja, banyak saling menjelekkan ketimbang bekerja. banyak saling menyalahkan ketimbang bekerja,” ujar Presiden Jokowi.
Presiden Joko Widodo juga mengeluhkan adanya sejumlah proyek pemerintah pusat yang terhambat karena mendapatkan pro dan kontra dari masyarakat. Padahal, menurut Jokowi, proyek infrastruktur serupa di berbagai negara selalu berjalan mulus karena tidak mendapat pertentangan dari warganya.
Jokowi menambahkan, harusnya prestasi yang diraih oleh pemerintah ini menjadi momentum positif bagi semua pihak.
Apalagi, pemerintah juga sebelumnya mendapat status investment grade atau layak investasi dari lembaga pemeringkatan dunia Standard and Poors (S&P) Ia menyayangkan jika upaya pemerintah membangun infrastruktur tidak didukung oleh seluruh komponen masyarakat.
“Ini sebuah kesempatan yang harus kita gunakan. Jangan masuk ke dalam framing saling menghujat, saling menyalahkan saling mendebat. Enggak ada. Itu adalah suatu kepercayaan. Invesment grade itu adalah sebuah kepercayaan internasional kepada negara kita,” tukasnya. (Ant).





































