Matanurani, Jakarta – Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Pengolahan dan Pemurnian Indonesia (AP3I), Jonathan Handojo mengatakan kebijakan relaksasi ekspor konsentrat yang kembali dibuka pemerintah membuat harga nikel turun. Saat ini, harga nikel di pasar dunia mencapai USD 12.000 per ton, sedangkan di Indonesia masih dijual USD 9.600 per ton.
“Kenapa kami ke usaha smelter? Waktu kami membuat proposal, membuat visibility study, harga dunia USD 12.000 per ton. Siapa yang enggak tertarik. Terus dapat isu dari pemerintah mau relaksasi, turun,” katanya di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (20/7).
“Kalau ongkos produksi USD 9.800 tapi jualnya USD 9.600 di luar bunga bank dan depresiasi ya rugi dong. Kalau sudah begitu kita mau menghindar dari kerugian itu enggak bisa,” lanjutnya.
Menurutnya, harga nikel yang cocok dijual di Indonesia seharga USD 11.000 per ton. “Harga nikel yang cocok itu sekitar USD 11.000 per ton. Itu untung sedikit tapi enggak rugi,” jelasnya.
Sebelumnya, pemerintah kembali mengizinkan ekpor konsentrat, mineral mentah kadar rendah untuk bauksit dan nikel. Aturan ini merupakan dampak dari terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2017 serta Peraturan Menteri ESDM Nomor 5 Tahun 2017 dan Nomor 6 Tahun 2017. (Mer).



































