Home Nasional Mahasiswa UI Sulap Limbah Batubara Jadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Mahasiswa UI Sulap Limbah Batubara Jadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Inovasi di bidang yang berkaitan dengan lingkungan dan energi bahan bakar alternatif terus dikembangkan oleh para mahasiswa Indonesia. Salah satunya yakni inovasi mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) yang mengubah limbah cair batubara menjadi bahan bakar ramah lingkungan.

Tiga mahasiswa Fakultas Teknik UI tersebut menciptakan sebuah prototipe berupa Nanokomposit Titani Nanotube (TiNT)-Graphene yang optimal untuk mendegradasi kandungan berbahaya di limbah cair batubara.

Tiga mahasiswa itu adalah Raudina dan Barneus Wanglie Sugianto dari Teknik Kimia, serta Isni Nur Sadrina, mahasiswa jurusan Teknologi Bioproses.

Salah satu mahasiswa, Raudina mengatakan, limbah cair batubara mengandung senyawa fenol yang bisa memicu berbagai penyakit bagi manusia. Misalnya, iritasi, kerusakan hati dan ginjal, gangguan saraf hingga penyakit kronis yang menyebabkan kanker.

“Berangkat dari masalah itu, kami meneliti metode yang efektif untuk mendegradasi senyawa fenolik pada limbah cair batubara agar aman dibuang ke lingkungan dengan menggunakan material lokal,” terang Raudina melalui siaran persnya, Sabtu (26/8).

Teknologi pengolah limbah yang digunakan oleh tim, jelas Raudina, yaitu memanfaatkan bahan material lokal berupa nanokomposit. Material lokal tersebut bukan hanya bisa mendegradasi limbah cair batubara semata tetapi juga secara simultan menghasilkan hidrogen. Inilah yang kemudian bisa mengubah limbah cair batubara menjadi energi terbarukan yang ramah lingkungan.

“Hidrogen diyakini mampu menjadi salah satu alternatif energi terbarukan yang akan terus berkembang dan ramai digunakan di masa depan karena tidak menghasilkan emisi karbon dan menghasilkan energi yang cukup besar,” jelas Raudina.

Ia juga menjelaskan, hidrogen tersebut juga tak beracun dan dipercaya sebagai satu-satunya bahan bakar alternatif yang bisa mengurangi ketergantungan negara pada bahan bakar fosil. “Hidrogen juga disebut sebagai pembawa energi bersih karena pembakarannya menghasilkan air sebagai produk sampingnya,” tambahnya.

Sementara di Indonesia sendiri industri pengolahan batubara merupakan salah satu industri yang berkembang pesat. Namun, pesatnya industri tersebut juga berpotensi mencemari lingkungan melalui limbah cair batubara yang dihasilkan. Parahnya, pencemaran itu dapat mengancam kesehatan makhluk hidup dan kelestarian lingkungan.

Oleh sebab itu, Raudina bersama tim berharap hasil penelitian mereka bisa berkontribusia dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) terutama dalam pengelolaan limbah.

“Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan skala industri dalam pengolahan limbah cair batubara dan produksi hidrogen sebagai energi terbarukan. Sehingga bisa menuntaskan masalah pencemaran limbah cair batubara yang mengancam kesehatan makhluk hidup dan kelestarian lingkungan,” tandasnya.(Smn).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here