Matanurani, Jakarta — Presiden Joko Widodo meminta Perum Badan Urusan Logistik ( Bulog ) memonitor ketersediaan pangan pokok setiap hari. Selain itu, Kepala Negara diminta Bulog berkoordinasi dengan seluruh kementerian dalam mengantisipasi terjadinya penyelewengan maupun kartel di sektor pangan.
“Terus monitor pangan hariannya. Jangan ada yang main-main dengan pangan. Bukan hanya beras, tapi seluruh pangan, 11 pangan pokok agar terus dimonitor baik-baik,” kata Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik ( Bulog), Djarot Kusumayakti, seusai dipanggil Presiden, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/8).
Djarot mengaku kedatangannya untuk melaporkan kepada Presiden Jokowi tentang stok beras yang saat ini mencapai 1,7 Juta ton. Stok beras ini akan digunakan untuk program beras sejahtera dan persediaan saat bencana.
Bulog, kata Djarot, menargetkan memiliki stok di atas satu juta ton pada akhir tahun. Djarot memperkirakan target ini mampu terpenuhi. Namun, ia mewaspadai kemungkinan munculnya spekulan-spekulan yang mengancam pemenuhan target.
“Yang sering menjadi tidak aman adalah ada ketidakyakinan bahwa cukup atau tidak. Kondisi ini sering menyebabkan spekulasi,” ujar Djarot.
Agar tetap aman, lanjut Djarot, Bulog akan terus menyerap gabah-gabah dari petani di berbagai daerah di Indonesia.
“Ya serap terus, harga enggak tinggi juga, kita kan dikasih fleksibelitas harga. Kita sudah lakukan dan kita coba terus serap dalam kondisi menjelang akhir tahun ini untuk menggantikan beras yang keluar sehingga di akhir tahun kita masih terjaga,” tegas Djarot.
Sebelumnya, Djarot menyatakan bahwa pemerintah tengah menyusun rencana penguatan peran Bulog. Ia berharap penguatan tersebut di antaranya dapat menyentuh bidang penugasan serta keuangan dalam menopang ketahanan pangan.
“Ada keinginan pemerintah perkuat (Bulog). Ada banyak tapi perlu kami harmonisasi di Kementerian Koordinator Perekonomian,” katanya.
Penguatan peran Bulog ini lebih banyak disebabkan Bulog saat ini berperan dalam penyaluran Beras Sejahtera (Rastra). Namun di sisi lain, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut juga berperan menjadi penyangga harga beras, baik di tingkat konsumen, maupun petani.
Sebelumnya, Presiden pernah mengingatkan Perum Bulog agar tidak hanya menjaga stabilitas harga beras di tingkat konsumen. Bulog, menurut Jokowi, juga harus turut berperan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Presiden kembali mengingatkan pentingnya kedaulatan pangan dan ketahanan pangan. Karena itu menjadi pertaruhan bagi bangsa Indonesia.“Pangan adalah soal hidup dan matinya bangsa,” tegas Jokowi.
Menurut Presiden, rakyat juga saat ini bukan hanya butuh ketersediaan pangan dengan kualitas yang baik, bergizi, dan harganya terjangkau. Mereka ingin pemerintah harus bisa menjaga agar para petani sebagai produsen pangan tidak selalu dikalahkan sehingga bisa hidup sejahtera. (Koj).





































