Home News Bukan Parpol Pengusung, Pemilih Muda Lebih Utamakan Isu Capres

Bukan Parpol Pengusung, Pemilih Muda Lebih Utamakan Isu Capres

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Generasi milenial dan Z menjadikan dasar pembahasan berbagai isu yang dekat dengan mereka, saat memilih calon sosok presiden (capres) ideal. Bahkan, dasar pemilihan capres oleh anak muda kini dipandang tidak lagi menekankan partai politik mana yang mengusung setiap tokoh jelang Pilpres 2024 nanti.

Kecenderungan itu terasa di sejumlah basis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), terutama wilayah yang bisa dikatakan tradisional bagi mereka. Fenomena ini disampaikan oleh Yayan Hidayat selaku direktur Lembaga Pemilu dan Demokrasi PB PMII, yang turut hadir dalam acara rilis survei Kepemimpinan Nasional dan Dinamika Elektoral Jelang 2024 di Mata Generasi Muda oleh Indikator Politik Indonesia, Minggu (23/7) di Jakarta.

“Dari interaksi yang ada kami melihat kecenderungan perpindahan pemilih anak muda begitu tinggi. Karena basisnya adalah isu, basisnya rasionalitas, misalkan hari ini banyak anak muda diasosiasikan mendukung salah satu capres bisa saja ke depannya bisa berubah,” ujar Yayan dalam acara yang digelar secara daring tersebut.

Yayan menambahkan bahwa anak muda memberikan simpati lebih kepada tokoh atau capres yang berbicara lebih banyak mengenai lapangan pekerjaan, pendapatan, maupun isu ekonomi yang dekat dengan keseharian. Khususnya bagi kalangan milenial dan generasi Z, yang mulai aktif terlibat dalam aktivitas politik serta tercatat mendominasi daftar pemilih.

Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Raihan Aritama menilai gagasan atau solusi mengenai lapangan pekerjaan, bahan pokok, korupsi, pengurangan kemiskinan mampu mendongkrak elektabilitas seorang tokoh di mata kaum muda. Hal ini juga disebut lebih efektif untuk memenangkan suara ketimbang hanya mengandalkan penampilan.

“Karena kalau tidak disampaikan gagasan (dari para capres) itu, yang menjadi preferensi memilih bagi anak muda belum jelas. Jadi mereka hanya memilih sekadar bagaimana tampilan dan branding dari masing-masing calon pemimpin tersebut,” katanya.

Pendapat lain disampaikan oleh Ketua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia, Tri Natalia Urada. Ia mendorong adanya interaksi tokoh maupun partai untuk melibatkan anak muda dalam diskusi terkait isu politik, yang menurutnya jauh lebih sedikit menarik partisipan dibandingkan isu lainnya termasuk di ranah media sosial.

“Kami sekarang menunggu ide gagasan dari capres ini apa yang mereka tawarkan. Karena kalau kami lihat ada banyak sekali gimmick yang beredar apalagi media sosial sangat masif justru tidak menawarkan ide gagasan yang mereka berikan ke masyarakat indonesia termasuk generasi muda,” papar Tri.(Bes).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here