MATANURANI.COM, Jakarta – PT PT PLN (Persero) menargetkan sebanyak 484 desa di wilayah Indonesia bagian timur yakni di Maluku dan Papua akan mendapatkan aliran listrik pada tahun ini.
Direktur Bisnis Regional PLN untuk Maluku dan Papua Haryanto WS mengatakan, saat ini PLN tengah memulai pengerjaan untuk penyaluran listrik sebanyak 365 desa di wilayah Papua dan Papua Barat. Sedangkan untuk wilayah Maluku dan Maluku Utara, PLN berencana akan menyalurkan listrik sebanyak 119 desa.
“PLN berkonsentrasi untuk mempercepat program listrik desa. Hal ini juga sejalan dengan nafas pemerintah untuk pemenuhan kebutuhan kelistrikan seluruh masyarakat,” ujar Haryanto WS dalam acara konferensi pers yang digelar di Kantor
Pusat PLN, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa, 25 April 2017.
PLN telah menyiapkan anggaran investasi untuk mewujudkan program listrik masuk desa tersebut. Untuk wilayah Papua dan Papua Barat, mereka telah menyiapkan dana sebesar Rp 1,81 miliar, sedangkan untuk wilayah Maluku dan Maluku Utara dana yang dipersiapkan sebesar Rp 721 miliar. “Pemerintah akan masuk bertahap. Sehingga kita terus berupaya melistriki saudara yang di Papua dan Maluku,” kata Haryanto.
Sepanjang 2016 lalu, PLN telah berhasil menyalurkan listrik sebanyak 96 desa untuk Wilayah Papua dan Papua Barat, serta sebanyak 34 desa untuk Wilayah Maluku dan Maluku Utara. Jumlah desa desa terlistriki tersebut mengalami kenaikan yang
cukup tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2015. Jumlah ini akan terus meningkat sejalan dengan komitmen PLN menyukseskan program ”Menuju Maluku Papua Terang 2020″.
Adapun untuk tahun depan, pemerintah telah membuat roadmap dengan menargetkan sebanyak 372 desa mendapatkan aliran listrik di Papua dan papua Barat. Peningkatan elektrifikasi ditargetkan juga terjadi di Maluku dan Maluku Utara yakni sebanyak 196 desa dapat dialiri listrik di 2018.
Haryanto berujar, tantangan terbesar dalam melistriki desa di regional Maluku dan Papua, adalah kondisi geografis yang berat. Terdiri dari pegunungan dan kepulauan, banyaknya daerah terisolasi, minimnya akses transportasi karena banyaknya
lahan berupa hutan dan rawa serta cuaca yang ekstrim.
“Tantangan terbesar yang kami alami dalam pembangunan ini, yakni perizinan dan pembebasan lahan. Tentunya dengan dukungan dan bantuan dari pemerintah setempat, stakeholders serta peran masyarakat, kami yakin masalah ini akan segera teratasi,” kata Haryanto.




































