Matanurani, Bandung – Indonesia mengalami banyak sekali kemajuan apabila dilihat menggunakan pendekatan historis. Namun, hal itu sangat berbanding terbalik apabila menggunakan indikator Human Development Indeks.
Begitu dikatakan Ekonom Senior, Rizal Ramli saat berbicara di Kuliah Umum dalam rangka Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa (OSKM) ITB 2017, Sabtu (19/8).
“Yang terdidik makin banyak, ekonomi kita juga makin besar, tentu tidak bisa dibantah banyak sekali kemajuan. Nah, sayangnya kalau menggunakan indikator Human Development Indeks kita relatif tertinggal,” jelasnya.
Human Development Indeks digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat. Hasil riset Rizal Ramli dan beberapa pemenang nobel, rakyat Indonesia masih banyak yang belum sejahtera.
“Saya selama 7 tahun sebelumnya jadi penasehat ekonomi PBB, bersama tiga pemenang nobel, kita bikin indeks-indeks untuk beberapa tahun kedepan. Itu kita relatif tertinggal, nomor 70-an sekian. Di Asia Tenggara kita nomor empat. Paling tinggi Singapura, Malaysia, Thailand baru kita,” jelasnya.
Hasil riset itu, kata Rizal Ramli, menunjukkan bahwa hanya 20 persen rakyat Indonesia yang sudah merdeka secara ekonomi dan sosial. Dimana, mereka sudah memiliki rumah, sekolah, liburan, hingga membiayai dokter pribadi.
“40 persen di bawahnya pas-pasan saja, tapi 40 persen yang paling bawah 72 tahun kemerdekaan belum pernah menikmati arti kemerdekaaan. Artinya makan saja susah, sekolah ribet,” terangnya.
Mantan Menko Maritim dan Sumber Daya ini menambahkan bahwa tugas negara yang dipimpin Presiden Joko Widodo dan Wakilnya Jusuf Kalla saat ini untuk bisa merubah 40 persen rakyat yang paling bawah tadi agar juga bisa menikmati kemerdekaan.
“Nah tugas negara kita mengubah yang 40 persen yang paling bawah ini supaya juga bisa merdeka secara ekonomi dan sosial tahun 2045, atau 100 tahun Indonesia merdeka. Kalau yang 20 persen paling atas kita gak usah urusin karena mereka udah bisa urus diri sendiri,” tandasnya. (Rmo).





































