Matanurani, , Jakarta – Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan UNESCO mengumpulkan enam negara segitiga karang dunia (Coral Triangel Initiative (CTI), untuk mengukur kontribusinya dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Asisten Deputi Sumber Daya Hayati Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Andri Wahyono mengatakan, pertemuan ini bertujuan untuk mendorong pencapaian target SDGs, melalui peningkatan kapasitas nasional dan lokal bagi negara-negara di Asia Pasific, terutama negara anggota CTI. Adapun enam negara yang hadir adalah Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Timor-Leste, Kepulauan Solomon, dan Filipina.
“kita menilai atau eksaminasi progres dari penerapan implementasi dari rencana aksi dari CTI CFF regional, yang mana negara anggotanya adalah Indonesia Malaysia, Filipina, Timor Leste dan Papua Nugini,” kata Andri, dalam forum tersebut, di Jakarta, Senin (17/6).
Andri menjelaskan, untuk mengukur kontribusi dalam SDGs menggunakan metode Kartu Skor untuk Sains, Teknik, Teknologi, dan Inovasi (SETI) yang merupakan produk dari proyek Facilitate in Accelerating Science and Technology (AP-FAST), bertujuan untuk membantu memungkinkan pencapaian agenda global dan target terkait di tingkat regional dan nasional, meningkatkan koherensi antara rencana pembangunan nasional dan global.
Panduan SETI untuk SDGs Scorecard ini bertujuan untuk memfasilitasi pemerintah, lembaga, organisasi guna menilai dan mengevaluasi kontribusi pada sasaran, target, dan indikator pembangunan berkelanjutan. Penerapan Kartu Skor SETI ini dapat digunakan untuk semua jenis Proyek SETI yang baru diusulkan, sedang berlangsung, dan telah selesai dan bagaimana kontribusi penting SETI dalam pencapaian setiap SDG.
Kartu Skor SETI adalah alat yang memungkinkan yang menyediakan instrumen bagi pengguna di mana mereka dapat secara eksplisit mengungkapkan kontribusi terperinci dari masing-masing hasil proyek masing-masing ke arah pencapaian SDGs. Peserta lokakarya regional ini diharapkan dapat menggunakan SETI untuk mengukur kinerja capaian target dan indikator SDGs di masing-masing wilayah maupun unit kerjanya.
“Tujuan utamanya bagaimana kita bisa mengkur metodologi progress mengenai implementasi dari SETI,” tuturnya.
Sebagaimana kita ketahui SDGs yang diadopsi oleh PBB pada September 2015 merupakan kelanjutan dari Millenium Development Goals (MDGs) yang berakhir pada 2015 lalu. SDGs diberlakukan dengan prinsip-prinsip universal, integrasi dan inklusif untuk meyakinkan bahwa tidak akan ada seorang pun yang terlewatkan (No-one Left Behind) yang terdiri dari 17 tujuan dan 169 target dalam rangka melanjutkan upaya dan pencapaian.(Lip).





































