Home Nasional Politisasi Agama Cenderung tidak Gunakan Akal Sehat

Politisasi Agama Cenderung tidak Gunakan Akal Sehat

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Cendekiawan sekaligus mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif menilai politisasi agama dalam konteks konstelasi politik merupakan penggunaan agama sebagai kendaraan politik tanpa mengindahkan akal sehat dalam pertimbangannya.

Dirinya menjelaskan maksud dari hal itu ialah adanya pendekatan dalam konteks politik yang membuat rasionalitas pemilih dalam menilai kualitas serta program-program yang nantinya akan ditawarkan para kontestan politik dikesampingkan.

Pasalnya, penggunaan politisasi agama selain rentan menimbulkan adanya perpecahan juga membuat masyarakat teralihkan dari yang seharusnya melihat kualitas serta program-program mereka.

“Definisi politisasi agama adalah memakai agama untuk tujuan politik tanpa akal sehat, tanpa moral dan hatinurani. Hal itu yang nantinya membuat kita memilih kucing dalam karung,” ujarnya dalam sebuah diskusi Kebangsaan di Gedung STOVIA, Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Minggu (29/7).

Ia memandang agama seharusnya bisa menjadi acuan moral dalam penyelenggaraan berpolitik dan berbangsa saat ini sehingga hal tersebut dapat menghasilkan para pemimpin yang berkualitas.

Namun, menurutnya, saat ini, sebagian orang memang masih menggunakan agama sebagai tunggangan politik dalam mencapai kekuasaan.

Dirinya menuturkan politisasi agama memang amat sering digunakan dalam kontestasi politik dikarenakan masih minimnya literasi masyarakat khususnya terkait pemahaman secara politik maupun dalam konteks agama.

Menurutnya, literasi tersebut perlu ditingkatkan khusunya bagi masyarakat agar nantinya bisa lebih menggunakan rasionalitas mereka dalam berpikir serta dalam menentukan pilihan sebagai hak politiknya.

“Agama bagi saya adalah acuan pedoman moral agar orang itu dalam melakukan sesuatu ada pertimbangan tertentu. Kalau politsasi agama berbeda, itu hanya jadi tunggangan politik bagi seseorang dalam merebut kekuasaan,” ungkapnya.

Dirinya juga menuturkan bahwa hal tersebut berkaitan pula dengan kondisi kesejahteraan masyarakat Indonesia saat ini. Untuk itu dirinya mengingatkan bahwa hal tersebut masih menjadi pekerjaan rumah pemerintahan saat ini agar nantinya dapat dibenahi.

“Memang hal itu berkaitan dengan kondisi kesejahteraan sosial yang masih ada kesenjangan. Hal ini jadi pekerjaan rumah juga untuk pemerintah,” imbuhnya. (Mei).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here