Home News KEIN Ingatkan Pengembangan Industri Sesuai Karakteristik Daerah

KEIN Ingatkan Pengembangan Industri Sesuai Karakteristik Daerah

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) mengingatkan agar pemerintah menyusun strategi pengembangan industri sesuai karakteristik masing-masing daerah (regional growth strategy), sehingga mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas.

Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta mengatakan kebijakan tersebut mempertimbangkan bahwa setiap daerah memiliki kearifan yang berbeda-beda, baik dari segi potensi ekonomi, sosial, hingga kebudayaan.

“Pertumbuhan ekonomi berbasis konektivitas kewilayahan melalui kebijakan yang spesifik dan terarah karena ketimpangan dan stabilitas ekonomi yang bervariasi antarwilayah menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya dalam Media Gathering Ramadan KEIN, Senin (4/6).

Berdasarkan hasil kajian KEIN terhadap lima wilayah yang pertumbuhannya fluktuatif, sebenarnya wilayah-wilayah mampu berkontribusi positif terhadap pertumbuhan nasional, dengan catatan pertumbuhan ekonominya stabil. Kelima wilayah itu adalah Nangroe Aceh Darussalam, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Papua.

Salah satu kebijakan dalam regional growth strategy (RGS), sambungnya, yakni memperhatikan komoditas yang menjadi keunggulan di masing-masing wilayah. Beberapa daerah di Indonesia memiliki potensi komoditas ekspor yang belum terkelola dengan baik dan mayoritas diekspor dalam bentuk mentah.

“Indonesia sangat kaya dengan hasil alamnya, begitu pun dengan komoditas. Pertumbuhan ekonomi provinsi di Indonesia bisa meningkat apabila kebijakan yang disusun sesuai dengan potensi yang dimilikinya,” ucap Arif.

Dari beberapa Focus Group Discussion(FGD) yang digelar oleh KEIN, ditemukan komoditas yang memiliki potensi besar untuk diekspor. Di Aceh, komoditas unggulannya yakni kopi, teh rempah, bahan kimia anorganik, dan bahan bakar mineral. Masing-masing komoditas tersebut memberikan pangsa terhadap ekspor wilayah sebesar 44,5%, 23,4%, dan 16,7%.

Kemudian, di Kalimantan Tengah, bahan bakar mineral, lemak dan minyak nabati, dan karet serta barang dari karet menjadi komoditas yang memikiki potensi besar untuk diekspor. Adapun kotribusi terhadap ekspor wilayah masing-masing sebesar 56,59%, 16,45%, dan 10,49%.

Sementara itu di Papua, komoditas yang dapat didorong ekspornya yakni bijih tembaga dan konsentrat serta kayu dan barang dari kayu dengan pangsa terhadap ekspor wilayah masing-masing sebesar 93,25% dan 4,95%.

“Jadi bisa dilihat jika kebijakan dibuat berbasis wilayah maka dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi karena mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki,” papar Arif.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2016, sebanyak 21%  provinsi tumbuh di bawah rata-rata pertumbuhan nasional. Sementara itu, 44% provinsi mengalami pertumbuhan tidak stabil. (Smn).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here