Home Uncategorized Menyedihkan: Indonesia Impor Rempah-rempah

Menyedihkan: Indonesia Impor Rempah-rempah

0
SHARE

Sungguh tidak menyangka kalau Indonesia harus membeli cengkeh, lada dan cabai kering dari negara lain. Tapi itulah kenyataannya. Menurut data BPS yang dirilis hari Kamis (16/3), pada bulan Januari dan Februari 2017 lalu, Indonesia mengimpor cengkeh sebanyak 781 ton dengan nilai Rp. 80 miliar, lada sebanyak 273 ton  dengan nilai Rp. 20 miliar, dan cabai kering sebanyak 8.000 ton dengan nilai Rp. 136 miliar.

Ternyata impor produk-produk pertanian ini sudah berjalan lama. Tahun lalu, pada periode yang sama, ketiga produk tadi diimpor masing-masing 224 ton, 273 ton dan 4.062 ton.

Dari mana saja komoditas tadi didatangkan? Madagaskar, Komoro, dan Tanzania untuk cengkeh; Vietnam, Amerika Serikat, Belanda, dan Korea Selatan untuk lada; dan India, China Amerika Serikat, Malaysia, dan Jerman untuk cabai kering.

Mestinya Indonesia mengimpor barang-barang industri dari negara-negara maju tadi, bukan mengimpor komoditas pertanian. Dengan negara-negara berkembang, Indonesia mestinya juga tidak kalah karena memiliki lahan yang luas, petani yang berpengalaman, iklim yang sesuai, dan lain-lain.

Jadi saat jutaan petani Indonesia berada dalam keadaan miskin, kita membeli produk-produk pertanian dari negara lain. Impor cabai lebih menyedihkan lagi. Sementara petani cabai di sini menderita kerugian karena harga cabai yang rendah, dan konsumen di perkotaan harus membayar harga cabai yang sangat tinggi,  petani negara lain bergembira karena cabainya diimpor ke Indonesia.

***

Penjelasan mengapa Indonesia mengimpor beberapa komoditas pertanian sudah sering kita dengar. Antara lain:

  • Permintaan suatu komoditas oleh konsumen atau industri dalam negeri bisa sangat tinggi pada suatu waktu, dan karena tidak bisa dicukupi oleh produksi dalam negeri, maka harus dilakukan impor.
  • Ekspor dan impor komoditas yang sama adalah masalah biasa dalam perdagangan. Apalagi Indonesia adalah negara yang luas, suatu daerah bisa mengekspor komoditas tertentu, tetapi daerah lain mengimpornya. Bangka dapat mengekspor lada ke Belanda, tetapi NTB dapat mengimpor lada dari Filipina.
  • Negara lain dapat lebih produktif daripada Indonesia sehingga dapat menjual komoditas pertaniannya dengan harga yang lebih rendah. Vietnam adalah contoh yang nyata, produksi ladanya meningkat pesat dalam waktu beberapa tahun saja, mengalahkan produksi Indonesia.
  • Produksi beberapa komoditas pertanian Indonesia rendah karena beberapa hal klasik seperti: harga bibit dan pupuk tidak terjangkau, luas areal tanam berkurang karena alih fungsi lahan, serangan hama tidak teratasi, teknik budidaya masih tradisional, petani kekurangan modal untuk pengembangan, petani tidak bergairah meningkatkan produksi, kekurangan tenaga kerja di perdesaan, cuaca yang tidak menentu.

***

Pemerintah tentunya sudah berusaha untuk mengatasi berbagai masalah di atas. Yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa semua kegiatan pemerintah pusat (Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan) dan daerah (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Dinas Perdagangan dan Perindustrian) berjalan secara efektif, terpadu, dan terukur.

Presiden Jokowi kiranya perlu mengadakan rapat terbatas untuk membahas penurunan produksi komoditas-komoditas pertanian yang secara tradisional Indonesia adalah juaranya, ditengah-tengah kesibukan beliau memantau perkembangan proyek-proyek infrastruktur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here