Home Opini ‘When Love and Hate Collide’

‘When Love and Hate Collide’

0
SHARE

Oleh, Eko Handoko Hasian

JUDUL lagu Def Leppard pada tahun 1990 – an ini menjadi kalimat yang cukup menggambarkan  kondisi sosial politik Indonesia saat ini di tengah-tengah kontestasi pemilu yang semakin dekat.

Ada sangat banyak cinta yang dijual untuk sebuah benci. Ada cinta agama yang dijual untuk saling membenci sesama umat beragama, ada cinta tanah air yang dijual untuk membenci masuknya investor asing, ada cinta keadilan yang dijual untuk menuduh pihak lain berbuat zalim dan banyak cinta-cinta lain yang dijual untuk membenci dalam rangka memenangkan kontestasi pemilihan presiden maupun pemilihan legislatif.

Zaman “post truth” adalah zaman informasi yang sangat gencar dan sangat dinamis, sangat “uncertain”.Informasi adalah makanan yang sehat di sisi lain juga makanan beracun. Dan lebih parahnya kita sangat sulit membedakan yang mana informasi yang benar yang mana hoax. Karena para pemimpin juga memanfaatkan informasi sebagai senjata untuk memperoleh kekuasaan.

“I will seek for the power..wherever it is..even in hell”. “Saya akan mencari kekuasaan..dimanapun itu..bahkan di neraka sekalipun.”

Ambisi dan dahaga akan kekuasaan membuat para politikus zaman now akan menghalalkan segala cara untuk memenangkan pemilu.
Apakah ini yang akan diwariskan para politikus zaman now ke generasi yang akan datang? Apakah mereka yakin Indonesia tetap utuh kalau masyarakat terpecah belah oleh ideologi
yang beragam?

Melalui tulisan ini saya mencoba mengingatkan bagi kita semua untuk tidak terjebak kepada cinta yang berujung kepada benci. Mari kita menyikapi segala isu-isu yang ada dengan cinta
yang berujung kepada kasih. Dan mari kita kembali kepada pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan ideologi dan kesepakatan awal bernegara di republik Indonesia tercinta ini.

Pemilu semakin dekat dan kondisi yang semakin panas terus bereskalasi. Provokasi dan isu yang memancing konflik horizontal semakin menjadi-jadi di tengah masyarakat.Mari kita kembali kepada “politik cinta kasih” seperti kata Pak Moeldoko beberapa waktu lalu. Dan
jangan terjebak kepada “politik cinta benci” karena siapapun yang menang pemilu dengan politik cinta benci tidak akan mampu menciptakan kedamaian di tengah-tengah rakyatnya.

Buat para timses dan relawan ayo ‘move on’, mari ciptakan budaya kampanye yang sopan dan santun. Silakan berargumen tentang apapun tapi mohon dengan segala hormat janganlah sentuh isu SARA karena akan sangat sensitif untuk memicu konflik yang lama terobati.

Buat masyarakat Indonesia marilah kita gunakan akal sehat dan hati nurani. Apapun isu yang berkembang janganlah terhasut apalagi menghasut untuk saling membenci atau malah bertindak anarkis. Semoga kontestasi politik 2019 ini membuat kita semua semakin cerdas
dan teliti dalam menentukan pilihan politik.

Buat para politikus dan para pemimpin nasional semoga kontestasi politik 2019 ini adalah pesta demokrasi bagi rakyat Indonesia mari kita junjung tinggi persatuan Indonesia. Persatuan adalah hasil dari perbedaan bukan hanya dari persamaan.

Salam Pertanian

Penulis adalah Praktisi dan Pengamat Pertanian  KOMITE EKSPOR IMPOR DPN HKTI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here