Home Opini UN SMA Di NTT Dipercepat: Toleransi Menjelang Hari Raya Paskah

UN SMA Di NTT Dipercepat: Toleransi Menjelang Hari Raya Paskah

0
SHARE

Penyelenggaraan Ujian Nasional bagi siswa-siswi SMA se-Indonesia sejatinya dilaksanakan pada pada tanggal 10 sampai 13 April 2017. Kementerian Pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia menurunkan sejumlah petunjuk teknis pelaksanaan Ujian Nasional yang dimaksudkan. Seperangkat petunjuk dan aturan mengenai Ujian Nasional tersebut  wajib diikuti dan dilaksanakan pada penyelenggara kegiatan. Namun ada yang berbeda dan mendapatkan kekhususan bagi Provinsi Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan Peraturan Badan Standar Nasional Pendidikan bernomor: 0043/P/I/2017 tertanggal 23 Januari 2017, kegiatan pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMA akan diselenggarakan pada tanggal 10-13 April 2017 dengan pengecualian untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penyelenggaraan Ujian Nasional tingkat SMA di NTT dimajukan pada tanggal 3-6 April 2017.

Penulis menangkap beberapa poin penting terkait kebijakan dan aturan yang dibuat berkaitan dengan penyelenggaraan Ujian Nasional. Beberapa poin penting ini sudah pasti dikaitkan dengan kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. Tulisan sederhana ini dibuat untuk mengajak pembaca untuk tetap merawat dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sedang dilanda dan diserang oleh radikalisme dan terorisme. Pendidikan sebagai barometer sekaligus katalisator deras tidaknya radikalisme dan terorisme sudah pasti harus dijaga marwahnya. Pendidikan yang menanamkan sikap toleransi dan kebhinekaan Indonesia merupakan tujuan utama dari seluruh rangkaian dan aktivitas akademis di Indonesia. Karena itu sikap,kebijakan dan  kurikulum pendidikan harus tetap dibingkai pada penanaman sikap toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan atau kebhinekaan. Semangat menjunjung tinggi empat pilar kebangsaan harus menjadi substansi dan urgen.

Sekolah: Ujung tombak dalam memberantas  radikalisme

Paham radikalisme berbau agama yang semakin marak di bumi persada nusantara merupakan ancaman serius bagi keutuhan Indonesia. Penulis menyajikan data berikut ini yang berkaitan dengan derasnya arus radikalisme agama berikut ini. Anas mengatakan pemahaman ideologi radikal itu dapat terlihat dari pandangan yang mengharamkan tafsir yang berbeda dengan pemahaman mereka, mengkafirkan sesama muslim dan juga menekan kelompok minoritas.

Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo –yang juga guru besar sosiologi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal.Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia.Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom.1

Hasil survey di atas secara gamblang menjelaskan kondisi tanah air Indonesia yang semakin digerogoti oleh paham radikal. Saatnya bangsa Indonesia berperang terhadap paham radikalisme yang sudah terang-terangan memaksa kehendaknya di bumi Indonesia. Gerakan radikal di Indonesia mau menggeser dan merubah dasar Negara Indonesia, keempat pilar kebangsaan dinilai tidak relevan lagi diterapkan di Indonesia. Data di atas menunjukkan bahwa penerapan Syariat Islam di Indonesia disetujui oleh 84,8 % siswa sedangkan gurunya sebesar 76,2%. Itu berarti radikalisme ini sudah masuk dalam ranah pendidikan. Bahkan paham radikalisme ini sudah disusupi secara masif, sistematis dan terstruktur dalam dunia pendidikan. Rasa kebangsaan yang ditanamkan oleh pendiri bangsa pada akhirnya mulai menghilang dalam pola sikap dan prilaku di masyarakat. Prinsip siapa mayoritas itulah yang memegang peranan penting dalam tatanan berbangsa dan bertanah air.

UN Di NTT dipercepat sebagai  Wujud Toleransi kepada Siswa-Siswi Kristiani

Arus deras radikalisme kelompok ormas tertentu sudah pasti semakin merongrong stabilitas politik, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Paham radikalisme disusup pelan pelan dalam setiap dimensi kehidupan berbangsa dan bertanah air. Beruntung nasib bangsa Indonesia masih memiliki putra-putra terbaik bangsa yang siap menghalau radikalisme mengakar pada nadi kehidupan berbangsa. Sebut saja keberadaan NU, Muhamadiyah dan barisan pendukung nasionalisme bangsa yang menjadi benteng dan pendukung dan penopang empat pilar kebangsaan.

Salah satu terobosan yang dibuat pencinta  empat pilar kebangsaan ini adalah munculnya sikap toleransi dan penghargaan terhadap umat Kristiani yang akan merayakan Hari Raya Paskah. Ujian Nasional yang seharusnya dilaksanakan pada tanggal 10-13 April 2017 akkhirnya dimajukan pada tanggal 3-6 April 2017. Mengingat pada tanggal 10-16 April 2017 umat kristiani yang ada di Provinsi NTT akan secara khusus merayakan Trihari Suci mengenang Senggsara Yesus Kristus dan Kebangkitan Isa Almasih. Menurut penulis, peraturan ini sangat mempertimbangkan kepentingan nasional. Sekurang-kurangnya toleransi kepada umat Kristiani sangat dihargai yang bernapaskan keempat pilar kebangsaan. Sekurang-kurangnya ribuan peserta didik tingkat SMA beserta para bapak ibu guru masih tidak terbebani antara menyiapkan hati dan jiwa dalam merayakan Paskah dengan  menyelenggarakan Ujian Nasional sebagai bagian dari pemenuhan tugas negara.

Harapan Di Masa Akan  Datang: Menghilangkan Radikalisme Dan Merawat Pilar Kebangsaan

Peraturan yang berhubungan dengan penyelenggaraan kegiatan yang bersifat nasional semestinya dibuat dengan mempertimbangkan kepentingan dan karakteristik wilayah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Namun sebenarnya yang paling penting adalah kebijakan dan peraturan yang dikeluarkan harus dengan tujuan memperkokoh semangat persatuan dan  kesatuan di bumi Indonesia. Semoga peraturan tentang pelaksanaan Ujian Nasional kali ini merambat pada bidang-bidang lainnya dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air. Peraturan dan kebijakan yang selalu mengusung semangat kebhinekaan,NKRI, Pancasila dan UUD 1945.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here