Home Opini Kepemimpinan Manajerial di Era Pandemi Covid 19 (Bagian 1)

Kepemimpinan Manajerial di Era Pandemi Covid 19 (Bagian 1)

0
SHARE

 

Oleh : Dr. Tonny Hendratono

KETIKA seseorang dipromosikan menjadi manajer, tidak serta merta otomatis orang tersebut menjadi pemimpin. Terdapat perbedaan antara manajer dengan pemimpin. Manajer mempunyai bawahan yang bekerja untuk mencapai tujuan dengan mendapatkan imbalan. Larsen (2002) mengemukakan manajer dan bawahan bertindak dalam suatu cara yang didukung dengan sarana-sarana untuk mencapai tujuan. Fungsi kunci manajer adalah mengimplentasikan visi, misi dan tujuan. Sementara pemimpin mempunyai pengikut yang menurut Bass ( 1985) sorang pemimpin bisa membujuk pengikutnya untuk meninggalkan kepentingan pribadinya demi kesuksesan organisasinya. Selanjutnya Kotter (1990) menjelaskan fungsi kunci dari seorang pemimpin adalah memantabkan visi dasar organisasi, dan menspesifikasi tujuan akhir serta menetapkan strategi yang paling tepat untuk mencapai tujuannya. Memang perbedaan antara pemimpin dengan manajer sering kali kabur, hal ini disebabkan oleh karena dalam prakteknya, peran pemimpin dan manajer tidak ada garis demarkasi yang jelas (Gardner (1986). Namun, apabila dilihat dari fungsi dan peran diatas, nampak terdapat perbedaan yang signifikan antara manajer dengan pemimpin.

Griffin (2000) mendefinisikan manajer adalah orang yang pertama bertanggung jawab untuk merealisasikan proses manajemen. Tugas utama manajer pada umumnya adalah membuat perencanaan, pengambilan keputusan, pengorganisasian, supervisi, pengawasan terhadap bawahan, keuangan dan sumber daya lainnya. Senada dengan pendapat diatas, Robbin dan Judge (2007) mengemukakan manajer adalah individu yang mencapai tujuan melalui orang lain. Tugas manajer adalah membuat keputusan, mengalokasikan sumber daya, dan mengatur aktivitas bawahan untuk mencapai tujuan. Manajer melakukan pekerjaan dalam suatu organisasi yang dikoordinasi secara sadar dan berfungsi relatif kontinu untuk mencapai satu tujuan atau serangkaian tujuan bersama. Dalam upaya mewujudkan tujuan tersebut manajer memiliki peran strategis. Penelitian Mintberg (1973) menyimpulkan terdapat sepuluh peran manajer yang dapat dikelompokan menjadi tiga yaitu (1) peran antara personal, (2) peran informasional dan (3) peran pengambilan keputusan. Seperti telah dipaparkan diatas, posisi manajer dalam menjalankan aktivitasnya selalu berada dalam organisasi formal, baik organisasi profit motive maupun non profit motive.

Sementara, seorang pemimpin tidak harus berada dalam suatu organisasi formal, sehingga sering muncul istilah pemimpin formal dan pemimpin informal. Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk menggerakan pengikutnya untuk bersama-sama melakukan aktivitas guna mencapai tujuan. Sedangkan proses seseorang menggerakkan para pengikutnya untuk mencapai tujuan disebut kepemimpinan. Kruse (2013) mengemukakan kepemimpinan tidak ada kaitan dengan senioritas atau hirarki posisi pada perusahaan, (2) kepemimpinan tidak ada kaitan dengan gelar, (3) kepemimpinan tidak ada kaitannya dengan atribut seseorang, (4) kepemimpinan bukanlan manajemen, dan (5) kepemimpinan berasal dari pengaruh sosial bukan dari otoritas atau kekuasaan. Empat fungsi pemimpin menurut Covey (2004) Path finding (perintis), (2)Aligning (penyelaras), (3)Empowering (pemberdaya) dan (4) Conscience (panutan). Pemimpin memainkan peranan yang penting dalam mewujudkan tujuan. Yulk (1998) mengutip pendapat Stogdill (1974) Ciri dari pemimpin yang efektif (sukses) Peka terhadap lingkungan sosial, memiliki kemampuan menyesuaikan diri, ambisius berorientasi pada keberhasilan, tegas, dapat bekerja sama, dapat dipercaya, penuh semangat, tekun, memiliki rasa percaya diri, tahan terhadap tekanan/stress, bersedia menerima tanggung jawab. Sedangkan ketrampilan yang merupakan karakteristik dari pemimpin efektif (sukses) yaitu cerdas, konseptual, kreatif, diplomatis, komunikatif, berpengetahuan luas, berpikir secara terorganisir, persuasif dan terampil secara sosiall.

Guru manajemen Drucker (1967) mengemukakan management is doing things right, leadership is doing the right things. Artinya manajer mengerjakan sesuatu dengan benar atau efisien, sedang pemimpin mengerjakan sesuatu yang benar atau efektif. Dengan kata lain, seorang manajer akan bekerja secara efisen dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, sedangkan pemimpin lebih berfokus pada efektivitas dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sementara Benis (1989) mengemukakan manajer bertanya tentang bagaimana dan kapan, pemimpin bertanya tentang apa dan mengapa. Menyimak pernyataan diatas, sangat tepat skenario empat hipotesis yang dikemukakan Macarie (2007) tentang kaitan antara manajer dengan pemimpin yaitu (1) Strong manager – strong leader, (2) strong manager – weak leader, (3) weak manager – strong leader, dan (4) weak manager – weak leader. Menyikapi kondisi saat ini, dimana beban manajer semakin besar dan kompleks, manajer perlu memainkan fungsi dan peran pemimpin. Seperti kondisi pertama yaitu strong manager dan strong leader, merupakan kondisi yang ideal yang diperlukan saat ini pada industri pariwisata karena keduanya saling melengkapi. Dengan kata lain, kepemimpinan manajerial merupakan salah satu kiat tepat dalam mengatasi krisis yang menerpa industri pariwisata sebagai dampak pandemi covid 19.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here