Home Opini Cocokologi Seorang Ahoker

Cocokologi Seorang Ahoker

0
SHARE

Melihat perkembangan persepsi di masyarakat di bulan pemilihan Pilkada DKI Putaran ke 2 ini, ada sebuah optimisme baru yang membawa angin segar yang perlahan tapi pasti, meniup segala macam awan kelabu yang telah cukup lama menaungi saya sebagai seorang Ahoker. Sebuah optimisme yang sempat sirna, ketika menyaksikan Jakarta diserbu pasukan putih-putih yang jumlahnya konon jutaan itu. Optimisme ini sudah mirip dengan Optimisme yang saya miliki ketika awal tahun kemarin, ketika nama Basuki Tjahja Purnama selalu mengungguli para pesaingnya di seluruh survei yang dilakukan.

Optimisme ini berbeda dari optimisme setengah hati yang saya miliki ketika ada keyakinan untuk menang 1 putaran di putaran pertama kemarin. Saat itu masih ada ganjalan, karena melihat berbagai pemberitaan, Ahok masih didera banyak sentimen negatif, dan karena saya merasa bahwa penganut radikalisme sesat masih mendominasi jalannya permainan di Pilkada lalu itu.

Dan untuk menghormati para pembenci Ahok, yang suka dengan ilmu cucokologi, maka saya akan mencoba memberikan beberapa fakta yang bisa di cucokologikan dengan rencana besar dari Yang Maha Kuasa, untuk menempatkan kembali Idola saya ini di kursi panas DKI 1.

[ UU Pilkada dan Profesionalitas MK yang dipertanyakan ]

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang pemilihan kepala daerah, mengatur mengenai masa kampanye yang berlangsung lebih dari 3 bulan, dan untuk DKI Jakarta dimulai dari 26 Oktober 2016 – 11 Februari 2017 (Sumber). Dan seperti yang kita tau, kasus tuduhan penodaan agama, pecah di aksi 411, atau 1 minggu setelah masa kampanye ini. Betapa beruntungnya Ahok, karena beliau memiliki 3 bulan untuk mengklarifikasi segala tuduhan yang tak berdasar itu. Bayangkan kalau kampanye hanya sebulan, mungkin untuk maju ke putaran ke 2 saja akan sangat sulit, bagi Petahana.

Lalu kita cocokan dengan revisi kontroversial yang di sahkan sidang paripurna yang dilangsungkan, pada tanggal 2 Juni 2016 (Sumber). Inilah revisi yang menjegal Ahok untuk bisa maju dengan Teman Ahoknya di jalur perseorangan, karena memberlakukan verifikasi seperti sensus. Dan UU ini juga mewajibkan seorang Petahana harus mengambil cuti kampanye.

Bayangkan, bagaimana nasib Ahok setelah diterpa kasus penodaan agama tersebut, jika dia maju dengan jalur perseorangan? Rasanya tak mungkin seorang Humphrey Djemat yang adalah anggota partai PPP, mau mati-matian membela Ahok, dan jadi pengacara Ahok pada sidang ini. Dan tak akan mungkin juga sekarang ada kecendrungan PKB dan PPP bakal full ikut mendukungnya.

Dan bayangkan kalau Ahok tetap menjadi Gubernur ditengah kampanye ini. Sudah pasti fitnah yang Beliau terima akan jauh lebih deras. Ada untungnya juga Mahkamah Konstitusi yang kurang profesional itu mempending lama tuntutan Ahok mengenai Petahana yang boleh memilih tidak cuti.

[ Kasus Rekening Buncit BG (Sumber) ]

Mengingat kembali awal 2015, kita dihadapkan pada bagaimana Kapolri terpilih Budi Gunawan, menjadi polemik, karena politisasi dari KPK. Mengapa saya sebut ini politisasi? Karena seorang Kapolri, harus dipilih dari jendral bintang 2 polisi saat itu. Dan pertanyaan saya adalah, apakah mungkin ada bintang 2 polisi saat itu yang benar-benar bersih? Dengan citra polisi sebagai lembaga terkorup? Jadi seorang Presiden haruslah memilih yang terbaik dari yang terburuk.

Tapi sudahlah, akhir cerita BG bertepuk sebelah tangan dan dipilihlah Wakil Kapolri Badrodin Haiti yang memasuki usia pensiun di pertengahan 2016 lalu (Sumber). Kejadian yang menyebabkan seorang Tito Karnavian yang ahli di bidang terorisme, untuk menjadi Kapolri. Yang dengan tangan dinginnya, dapat mengubah aksi dahsyat 411 menjadi aksi unyu-unyu 313.

Bayangkan kalau bukan seorang Tito Karnavian yang menahkodai Polisi saat 411, melainkan Budi Gunawan yang belum berpengalaman di masalah Agama Radikal. Mungkin bisa terjadi ulangan Mei 98 saat itu. The right man at the right time, menggerus habis aksi lanjutan berjilid-jilid tersebut.

[ Kedatangan Raja Salman ketika Ahok selesai cuti kampanye ]

Siapa sangka kejadian Internasional yang bermula dari kehancuran ekonomi dunia dan membuat minyak banting harga selama bertahun-tahun, dan sanksi embargo Iran yang dicabut sehingga Jokowi bisa melakukan kerjasama dengan Iran, membuat seorang raja dari negri arab menyempatkan diri untuk mampir ke tanah air ini?

Tour dunia untuk promosi saham Aramco, dan kegalauan akan pengaruhnya dari pesaing utamanya di teluk Persia, membuat seorang Raja Salman mengunjungi Indonesia. Uniknya kunjungannya itu tepat ketika Ahok telah kembali menjabat sebagai Gubernur. Dan sesuai protokoler, seorang Gubernur DKI, akan ikut menyambut kedatangan tamu negara di bandara. Sebuah momen yang mengguncang dunia perontaan, sepotong foto salaman Salman, seorang raja dari jazirah yang mereka agung-agungkan, dengan si yang katanya penista agama.

[ Musibah Fenomena La Nina dan Kasus Kecelakaan di Daan Mogot ]

Di setiap bencana, ada anugrah tersendiri. Begitulah bagaimana kita bisa berusaha berfikir positif mengenai bencana yang menerpa. Seperti yang kita tau, Fenomena La Nina sedang dialami oleh Indonesia. Fenomena ini memberikan kita hujan yang lebih deras dari biasanya, khususnya di November 2016 sampai Maret 2017 (Sumber)

Memang banyak daerah yang terkena banjir karena fenomena ini. Dan yang paling mengagetkan adalah bagaimana Kota Bandung yang terletak 600 meter diatas permukaan laut, bisa banjir besar sampai menyeret mobil ke selokan (sumber).

Bukan mau menertawakan kejadian itu, apalagi karena saya adalah orang Bandung. Tetapi ini adalah kejadian yang membuka kualitas seorang Ahok sebenar-benarnya. Orang yang dahulu popularitasnya menempel Ahok itu, ternyata tidak bisa benar-benar mengurus kotanya, padahal si Kota Kembang di kaki gunung, sedangkan Jakarta 40% berada di bawah permukaan laut ini, hanya didera sedikit banjir yang cepat surut juga.

Dan yang menarik adalah kecerobohan seorang pengemudi fortuner yang mengaku baru pulang dari Kalijodo (Sumber). Kejadian di awal 2016 ini, menjadi alasan kuat seorang Ahok untuk membongkar kompleks prostitusi Kalijodo yang melegenda itu. Yang dalam hitungan bulan dapat disulap menjadi arena bermain anak yang sangat positif. Sebuah bencana yang merealisasikan prestasi gemilang Petahana yang terus “dijual” oleh timsesnya.

[ Salah Ucap Ahok dan Politisasi Agama yang Terlalu Kotor ]

Mungkin Ahok terlalu bersemangat ketika mengadakan kunjungan ke Pulau Seribu itu, sehingga mengeluarkan unek-uneknya yang kebetulan diunggah ke YouTube. Saya berfikir, mungkin ini cara Tuhan untuk membuka mata pemerintah dan para nasionalis sejati, untuk sadar bahwa politisasi agama, dan penyebaran paham garis keras di Indonesia telah mencapai titik yang memprihatinkan. Bila Ahok tidak keseleo berbicara, mungkin kesadaran akan hal itu tak akan pernah ada. Dan mungkin tiba-tiba kelak Indonesia langsung berubah menjadi negara yang tidak toleran lagi.

Kasus Ahok ini memang sempat membawa angin segar buat para kaum yang ingin mendirikan negara syariat, dan hobby mengkafirkan yang tak sepaham dengan mereka. Bahkan puncaknya adalah bagaimana spanduk-spanduk tidak mau menyolatkan pemilih Ahok terpajang di banyak titik di Jakarta. Tetapi karena tiba-tiba sekali, sangat kotor dan gaungnya menjadi sangat besar, maka Pilkada tentang kompetisi calon no 2 dan 3 ini, menjadi dipandang sangat berbeda.

Pilkada ini berubah menjadi Pilkada yang menentukan nasib ke depan NKRI. Apakah mau jadi Negara Pancasila, atau jadi Negara Syariat. Mungkin hal ini juga yang disadari oleh Demokrat, seperti yang saya bahas di tulisan saya sebelumnya (Misi Penyelamatan Demokrat), sehingga mereka tidak mendukung paslon no 3. Dan bagaimana PKB dan PPP yang memiliki akar NU, mengesampingkan kepentingan politik mereka, dan mulai bersikap untuk menyelamatkan negara ini.

Bahkan yang menarik, bagaimana budayawan, Kaum Intelektual, para aktifis dan tokoh agama yang pluralis, yang mungkin sebenarnya tidak mau ambil pusing di Pilkada DKI Jakarta ini, akhirnya turun gunung, untuk “mendukung” seorang Basuki Tjahja Purnama. Seperti Ketua Umum PBNU Said Akil Siroj, M.Sobary, Yudi Latif, Chico Hakim, dan lain sebagainya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here