Home Opini Cari ‘Makan’ Di tengah Perang Dagang Internasional

Cari ‘Makan’ Di tengah Perang Dagang Internasional

0
SHARE

Oleh, Eko Handoko Hasian

DALAM pertemuan world bank-IMF Bali Oktober 2018. Kepala tim ekonomi IMF, Maurice Obstfeld mengatakan bahwa perang dagang besar-besaran antara AS dan Cina akan membuat pemulihan ekonomi dunia mengalami hambatan besar.

Maurice Obstfeld mengatakan dunia akan menjadi “tempat yang lebih miskin dan lebih berbahaya” kecuali para pemimpin dunia bekerja sama untuk meningkatkan standar hidup, meningkatkan pendidikan dan mengurangi ke tidak serata an.

Pada hakikatnya sebuah negara harus bisa menjamin 2 hal terhadap rakyatnya kestabilan pangan dan energi, kedua hal inilah yang perlu dijaga oleh pemerintahan agar ekonomi tetap kuat menghadapi ancaman isu perang dagang global di tahun 2018 /2019.

Sektor pertanian sebagai penyumbang ketersediaan pangan di Indonesia masih  memerlukan banyak perhatian antara lain adalah:

1. Modernisasi budidaya pertanian menyangkut peningkatan hasil produksi melalui teknologi maupun Alsintan sehingga selain produksi meningkat biaya produksi pun akan semakin efisien. Dalam kaitannya dengan World Bank РIMF seyogianya pemerintah membuka keran terhadap kerja sama dengan negara2 di dunia dalam hal perdagangan alsintan  maupun teknologi pertanian terkini yang proven.

2. Penguatan organisasi dan kelembagaan pendukung pertanian. Organisasi dan kelembagaan ini sangat penting bagi tercapainya target2 pemerintah di bidang pertanian. Tanpa adanya keorganisasian dan kelembagaan yang kuat komunikasi dan koordinasi antar jaringan atau kelompok akan sulit tercapai target dari pertanian tersebut. Dalam kaitannya dengan World bank-IMF ini harapan masyarakat pertanian adalah pemerintah mampu mensosialisasikan sampai ke tingkat petani program2 pemberdayaan maupun pembiayaan dunia yang bisa dimanfaatkan khususnya utk petani Indonesia.

3. Regenerasi petani sesuai dengan istilah SDG’s (sustainable development goals) regenerasi ini adalah sebuah ancaman di masa yang akan datang apabila pemerintah tidak mengambil langkah dan program strategis. Tren jumlah petani muda yang mau menekuni sektor pertanian terus menurun dan ini merupakan ancaman serius di masa yang akan datang. Dalam konferensi World Bank-IMF ini pemerintah sebaiknya mampu membuat kerja sama di bidang pertanian dengan negara2 yang memiliki keunggulan di sektor pertanian sehingga dapat melakukan adopsi maupun modifikasi terhadap kunci sukses negara2 tersebut di bidang pertanian.

Di Sumatra utara tempat kelahiran saya sebutan mencari nafkah atau bekerja adalah “cari makan”. Mungkin Karena makan adalah kebutuhan yang paling mendasar bagi setiap manusia untuk tetap hidup.

Semoga pertemuan World Bank-IMF bali pada Oktober 2018 ini berjalan dengan lancar dan sukses. Petani Indonesia berharap hasil dari perhelatan ini juga dapat memberikan “direct impact” terhadap kemajuan pertanian dan petani di Indonesia. Dan yang terpenting adalah rakyat Indonesia tidak sulit “cari makan” di tengah kompetisi global yang semakin berat apalagi menghadapi isu perang dagang dunia.

Salam Pertanian

Penulis adalah Praktisi dan Pengamat Pertanian Komite Ekspor Impor DPN HKTI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here