Home Opini Bisakah Doraemon Mengubah Daun jadi Uang?

Bisakah Doraemon Mengubah Daun jadi Uang?

0
SHARE
Barang bukti berkarung2 daun milik pelaku (Gambar: detik-com)

Tokoh kartun Doraemon telah lama dikenal di Indonesia. Sejak tayang pertamakali pada tahun 80an, film Doraemon hingga kini masih ditonton. Doraemon tak mati-mati, tak tua-tua, tapi tak pernah Kura-kura. Sebab, Kura-kura sudah milik Seword mania.

Bahkan Nobita, juga tak pernah menikah dengan Suzuka. Meski dalam mesin masa depan diceritakan bahwa jodoh Nobita adalah Suzuka, tapi nyatanya hidup tak seperti drama Korea, kata sebuah iklan. Nobita tetap hidup dengan kebebalan yang nyata.

Tokoh Doraemon ini telah menjadi bagian dari biografi hidup masyarakat Indonesia. Khususnya yang lahir di era 80an. Orang-orang dahulu menonton Doraemon saat masih jomblo. Kini, saat mereka sudah menikah dan punya anak, anak-anaknya juga menonton Doraemon. Doraemon terkenal dan abadi dari generasi ke generasi.

Dan tokoh satu ini, tak juga beranjak tua. Ini memang sebuah anomali kehidupan karakter kartun. Mereka bisa tetap awet muda, dan tak mati-mati. Usia mereka juga tak pernah bertambah. Meski orang yang menonton telah tua, tapi tokoh yang ditonton tetap masih muda, masih seperti itu-itu saja dan masih seperti yang dulu,kata Peterpan.

Jadi bagi para pembaca Seword-dot-com yang takut tua, jadilah tokoh kartun. Tidak hanya terbebas dari ancaman usia tua, tapi juga malaikat maut pun tidak akan mampu menjemput anda! Hahaha!

Doraemon, selain terkenal dengan baling-baling bambu dan pintu kemana saja, kantongnya juga bisa mengeluarkan pelbagai alat. Alat-alat ajaib dan super-duper-ultra-hyper-amat-sangat-modern. Ada saja alat yang bisa dikeluarkan dari kantong Doraemon, lalu digunakan untuk menyelesaikan masalah, khususnya masalah Nobita. Nobita yang hidup dengan kebebalan nyata.

Nah, barangkali ini juga yang menginspirasi jama’ah pengajian yang dipimpin oleh Afandi Sangadji Idris. Tiap mobil jama’ah, ditempeli dengan stiker Doraemon. Mungkin, ada harapan bahwa pengajian di padepokan “kiai” Afandi itu, bisa mewujudkan segala hasrat keserakahan dan kerakusan dalam diri. Keserakahan dan kerakusan akan harta dan kemewahan.

Kok bisa? Ya bisa! Karena si “kiai” Afandi itu, berjanji bahwa daun yang ia berikan kepada jama’ahnya di dalam amplop, kardus atau karung, dalam waktu tertentu nanti akan berubah jadi duit. Ada sekitar 130an orang yang jadi jama’ahnya “kiai” Afandi ini. Dari 130an orang itu, mereka menyetor duit ke Afandi dari mulai Rp 500 ribu, hingga Rp 7 juta.

Afandi berhasil mengumpulkan sekitar Rp 1 miliar dari 130an orang itu. Dan apa yang dilakukan oleh Afandi itu terjadi pada tahun yang sudah menunjukkan angka 2017! Gila! Di tahun 2017 ini, tetap saja masih ada barisan orang yang percaya bahwa daun bisa diubah menjadi duit. Cuma mereka yang buta mata, buta hati, buta akal, mempercayai hal tersebut.

Memangnya Afandi itu Doraemon? Memiliki alat untuk mengubah daun jadi duit?

Afandi meniti karier mengikuti pendahulunya, Taat Pribadi. Tapi Si Taat yang aslinya petani tak berpendidikan formal yang bonafid, bisa membelokkan pikiran orang sekelas doktor. Doktor Marwah Daud. Si Afandi sebelum sampai mencapai derajat Si Taat, sudah kadung tamat diciduk oleh pasukan berbaju cokelat.

Mengapa di tahun yang sudah ribuan, daun bayam sudah bisa mendeteksi ledakan, dan dunia sudah terjadi peluruhan tapi di Indonesia masih ada saja orang-orang yang percaya bahwa daun bisa disulap jadi uang?

Saya tidak tahu. Saya bukan ahli, apalagi peneliti. Tapi masalah modernitas yang telah mendorong masyarakat Indonesia dalam jurang materialistik, turut memberi efek. Setidaknya efek bahwa spiritualitas masih dirindukan dan diyakini dapat memberi solusi untuk menemukan kebahagiaan.

Barang bukti berkarung2 daun milik pelaku
(Gambar: detik-com)

Tapi sayangnya ada saja orang-orang yang “cerdas” menggunakan celah ini. Dengan berlagak jadi “kiai”, lewat kemampuan retorika persuasif, sedikit bisa mengutip ayat-ayat suci dan memberi janji-janji solusi atas pelbagai masalah pribadi.

Ia keruk saja duit orang-orang yang gelisah, dan dihatinya masih menyimpan gumpalan-gumpalan sifat rakus dan serakah. Dijanjikan saja uang bakal digandakan, atau daun disulap jadi uang.

Buuum!!! Orang berduyun percaya, ikut saja zikir jama’ah dan pengajian dengan khusyu’, padahal itu cuma dijadikan kedok untuk menutupi strategi penipuan.

Dan orang-orang yang terpesona, ngangguk saja dengan sosok “kiai” abal-abal seperti ini. Bilang daun bakal berubah jadi duit, ya percaya saja. Bahkan mungkin batu kali bisa dijanjikan berubah jadi batu Swarovski, juga dipercaya. Yaelah Doraemon….Doraemon…baling-baling bambuuuu!!!

Keserakahan dan hasrat rakus dalam diri manusia, telah menutupi kewarasan nalar. Karena nalar tak bekerja secara waras, asal ada anggapan bahwa si A adalah “kiai” hebat dan bisa membantu menyelesaikan masalah, maka orang-orang dengan mudahnya percaya. Sikap kritis sudah tidak bekerja dalam posisi seperti ini. Adanya cuma taklid belaka, cuma ikut saja apa yang dikata dan diminta.

Apalagi, mereka yang mendewakan ketokohan seseorang dari simbol-simbol pakaian yang dianggap mencerminkan “cahaya” keagamaan yang haibat, hanya akan menghasilkan sekelompok manusia berbahaya. Mereka bisa diseret ke jurang radikalisme, sebagai jembatan menuju aksi-aksi kejam ke arah terorisme.

Bukankah peribahasa kita sudah mengajarkan, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, beradikal-radikal dahulu, berteroris kemudian?

Eh, benar tidak itu peribahasa? Sebentar, saya tanyakan saja pada Si Afandi “Doraemon” Sangadji. Barangkali dia punya alat yang bisa mengoreksi kesalahan peribahasa ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here