Home Olahraga Satu Tahun Kepergian Sang Ali, Legenda Tinju Dunia

Satu Tahun Kepergian Sang Ali, Legenda Tinju Dunia

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Dunia tidak akan melupakan kepergian legenda tinju, Muhammad Ali, yang tutup usia pada 3 Juni 2016. Muhammad Ali meninggal dunia di usia 74 tahun dan harus menghentikan perjuangannya setelah dirawat di rumah sakit wilayah Phoenix, Amerika Serikat.

Saat itu, seluruh penggemar tinju maupun warga Amerika Serikat sangat terpukul dengan kabar duka meninggalnya sang legenda. The Greatest –begitu julukan Muhammad Ali– pergi meninggalkan istri dan sembilan anak tercinta.

“Pria terbaik yang pernah hidup di dunia. Ayah, sahabat dan pahlawan. Anda sudah tidak lagi bertahan dari momen sulit dan kini telah berada di tempat yang lebih baik,” tulis sang anak pada 4 Juni 2016, Rasheda Ali, dalam akun Twitter @rashedaali, dikutip Sabtu (3/6/2017).

Putrinya yang lain, Hana Ali, mengatakan keluarga besar memeluk dan mencium sang ayah serta mengucap doa-doa dalam detik-detik kepergian Muhammad Ali. Hana bahkan sempat berujar jika jantung sang ayah tidak berhenti berdetak 30 menit setelah semua organnya gagal berfungsi.

“Tidak ada yang pernah melihat hal seperti itu. Sebuah peninggalan dari kekuatan spirit dan keinginannya yang sangat tinggi untuk terus berjuang,” ungkap Hana Ali, mengutip dari ESPN, Sabtu (3/6/2017).

Muhammad Ali sendiri lahir di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat, pada 17 Januari 1942. Ia telah menjadi sosok penting tidak hanya bagi penggemar tinju. Selama hidupnya, sang legenda tidak pernah berhenti membuat orang terpukau. Selama Perang Vietnam, Muhammad Ali bahkan menolak untuk ikut berperang karena tidak ingin menyakiti orang lain.

Sejak itu, tak hanya talenta tinjunya, sosok Muhammad Ali pun selalu menjadi panutan bagi semua orang. Di dunia tinju, nama The Greatest juga menjadi sebuah legenda nyata. Dalam perspektif tinju modern, gaya bertarungnya tetap menjadi yang tercepat, baik di middleweight maupun heavyweight.

Selama kariernya, ia telah melakukan 61 pertandingan dengan kemenangan sebanyak 56 kali. Muhammad Ali pun berhasil mendapat medali emas dalam Olimpiade di Roma pada 1960. Terlepas dari penampilan emasnya di ring tinju, Muhammad Ali menghentikan karier sebagai petinju profesional pada 1981. Sang legenda menderita penyakit parkinson selama beberapa dekade terakhir.

Pada 2015, Muhammad Ali pun sempat dirawat karena masalah infeksi saluran kemih hingga menyebabkan pneumonia. Terus mengalami kemunduran kondisinya, Muhammad Ali tampil di depan publik untuk terakhir kalinya pada 9 April 2016.

The Greatest kala itu menghadiri acara Celebrity Fight Night Dinner yang digelar untuk menggalang dana bagi organisasi pengobatan parkinson yang didirikannya. Saat itu, kejayaan Muhammad Ali seperti di ring tinju sudah sirna, yang ada hanyalah sosok lemah dan ringkih.

Kini, satu tahun selepas kepergian Muhammad Ali, sosoknya memang boleh saja hilang dari dunia ini. Namun, kehebatan di ring tinju serta kemuliaan hati sang legenda tidak akan membuat namanya hilang. Dunia pun akan terus mengenang Muhammad Ali sebagai petinju terhebat dunia. (Oke)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here