Home News Tekanan Pandemi, Bangkitkan Perempuan Berdayakan Teknologi Digital

Tekanan Pandemi, Bangkitkan Perempuan Berdayakan Teknologi Digital

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Kartini menjadi advokat bagi emansipasi perempuan dan  perempuan adalah harta yang berharga bagi bangsa dan negara. Namun, masih ada pekerjaan rumah yang harus dilakukan.

“Pekerjaan rumah kita hari ini bukan hanya untuk menutup lubang ketidaksetaraan yang ada, namun memastikan perempuan Indonesia tidak lagi tertinggal di masa depan,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawati dalam webinar bertajuk “Potensi dan Peran Perempuan di Era Digital’ yang diselenggarakan ISED dalam rangka Hari Kartini, Kamis (22/4).

Namun begitu diakuinya masih ada sejumlah kendala yang dihadapi mulai dari keterbatasan akses perempuan terhadap teknologi informasi problematika kemandirian secara ekonomi dan kerentanan perempuan.

Contoh soal kemandirian ekonomi, ketika Indonesia terkena dampak pandemi covid-19, pengusaha perempuan banyak mengalami penurunan pendapatan keluarga. Karena hampir dari 60% Usaha  Mikro Kecil Menengah (UMKM) tulang punggungnya adalah perempuan, sedangkan kontribusi UMKM berkisar 99,9 % terhadap dunia usaha secara total.

“Karena itu pemberdayaan teknologi digital sangat membantu usaha perempuan untuk bangkit dan berkembang. Karena itu perlu sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi media dan masyarakat sebagai wujud kesetaraan gender dalam pembangunan, ” jelasnya.

Sementara, Founder ISED,, Sri Adiningsih menilai perempuan memiliki potensi dalam memajukan bangsa Indonesia. Namun, ketimpangan antara laki-laki dan perempuan dinilai masih sangat besar.

“Potensi perempuan di era digital sangat besar. Perempuan sudah tidak takut dengan perkembangan digital. Peranan perempuan Indonesia dalam perkembangan transformasi luar biasa,” katanya.

Dalam webinar yang sama Ketua Umum Kowani, Giwo Rubianto berharap kesenjangan digital selama pandemi  harus segera diatasi.

“Menurunnya kegiatan UMKM dimana 60% nya adalah pelaku usaha perempuan, harus didampingi dan diedukasi. ‘Karena jika Anda mendidik seorang pria, Anda hanya mendidik seseorang. Namun, jika Anda mendidik seorang perempuan, Anda dapat mendidik satu bangsa” katanya.

Sementara itu Sekjen LPER (Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat) Dr. Francisca Sestri menyoroti soal porsi perempuan berusia antara 25 – 34 tahun adalah pemakai internet per hari terbesar kedua di Indonesia  yakni 55,90%. Namun Sestri menilai justru aneh jika kontribusi itu dimanfaatkan untuk kegiatan terorisme yang membahayakan negara dan bertentangan dengan Pancasila.

“Maka perlu edukasi melalui Kemendikbud agar hal-hal yang tidak diinginkan bisa dicegah. Khususnya soal literasi digital, perempuan Indonesia harus bijaksana dalam menggunakan internet dan melakukan perlindungan data diri,” ungkapnya.

Dipenghujung webinar, Yudi Latif  Cendekiawan dan Direktur Sekolah Pancasila menutup webinar dengan mengungkapkan bahwa  Kepahlawanan feminim harus bisa menumbuhkan perasaan dalam jiwa sehingga bisa bersikap toleransi kepada bangsa lain, dan menyangkut ekonomi harus fair dan adil.

“Momentum Hari Kartini harus mendorong lahirnya kepemimpinan femenim di Indonesia,” pungkas Penulis buku laris “Pendidikan Berkebudayaan itu.

Acara webinar yang memperingati Hari Kartini 2021 ini diselenggarakan Institute of Social Economic Digital (ISED) bersama Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dipandu oleh moderator Arief Subhan, Dewan Pakar ISED, dan nara sumber lainnya, mulai dari Irene Camelyn Sinaga, Direktur Pemberdayaan BPIP, Julie Trisnadewani Direktur Eksekutif ISED, Dr Eunice Sari, CEO dan Co Founder UIX Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here