Home News Sri Mulyani: 2025, Potensi Ekonomi Digital RI Capai Rp1.800 T

Sri Mulyani: 2025, Potensi Ekonomi Digital RI Capai Rp1.800 T

0
SHARE
Menteri Keuangan Sri Mulyani

Matanurani, Jakarta — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan potensi ekonomi digital Indonesia bisa menembus US$130 miliar atau setara Rp1.839,5 triliun (berdasarkan kurs Rp14.150 per dolar AS) pada 2025 mendatang.

Nilai itu meroket tiga kali lipat lebih dari tahun ini yang di kisaran US$40 miliar atau setara Rp566 triliun.

Bendahara Negara mengatakan proyeksi nilai ekonomi digital itu didapat dari tren pertumbuhan sektor industri tersebut yang mencapai 40 persen per tahun. Laju pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia mengalahkan sektor industri lain yang rata-rata hanya sekitar 5 persen.

“Indonesia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara dan di dunia dengan growth (pertumbuhan) ekonomi digital tercepat,” ujar Sri Mulyani di kawasan Thamrin, Jakarta, Kamis (10/10) malam.

Bahkan, menurutnya, pertumbuhan ekonomi digital jauh lebih tinggi ketimbang penerimaan pajak yang selama ini menjadi kontributor utama penerimaan negara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam beberapa tahun terakhir, penerimaan pajak tertinggi hanya mencapai kisaran 14,3 persen, yaitu pada akhir 2018.

“Tadi saya baru datang dari Malang, saya bicara dengan (kepala) kanwil bagaimana penerimaan pajak, semuanya mukanya langsung lesu. Jadi kalau ada sektor dan kegiatan ekonomi yang tumbuh 40 persen di hari ini, itu luar biasa,” ungkapnya.

Tak hanya memiliki potensi nilai ekonomi digital yang besar, ia mengatakan industri ini memang memiliki kehebatan lain, yaitu tidak ada batas nilai yang dianggap kecil untuk mengembangkan bisnis ke depan. Ia memberi ilustrasi, pecahan uang Rp500 mungkin akan dianggap kecil dalam kegiatan di industri lain.

Namun, hal ini tidak berlaku di ekonomi digital. Bahkan, Rp1 pun bila dimiliki oleh 260 juta penduduk di Indonesia melalui akun di marketplace masing-masing, akan mampu menciptakan uang mencapai Rp260 juta dalam bisnis digital ini.

“Sekarang uang Rp500 pun akan ditukar dengan permen ketika berbelanja karena dianggap denominasinya terlalu kecil. Tapi di platform digital, setiap rupiah meaning full untuk dipakai konsumsi, investasi, apa saja,” katanya.

Lebih lanjut, pertumbuhan dan potensi ekonomi digital yang sangat besar, katanya, membuat banyak pekerja kalangan milenial turut memprospek perusahaan-perusahaan digital sebagai tempat kerja.

“Anak milenial jika ditanya, ‘What’s best pekerjaan yang diharapkan?’ Mereka inginnya bekerja di company seperti Tokopedia, ada luxury-nya begitu,” tuturnya.

Kendati pertumbuhan ekonomi digital naik cepat, namun Sri Mulyani mengingatkan bahwa laju ini sejatinya juga memberikan tantangan kepada pelaku usaha. Pertumbuhan yang terlalu cepat harus mampu dihadapi pelaku usaha dengan perubahan-perubahan yang dinamis dan inovatif.

Bila tidak, potensi nilai ekonomi yang begitu besar tidak akan mampu digenggam. Begitu pula bagi pemerintah selaku regulator di berbagai industri.

“Saya berharap digital company di Indonesia yang sudah menjadi unicorn, bahkan decacorn, mereka mampu mempercepat kemampuan fondasi tata kelola, sehingga bisa menyeimbangkan public responsibility dengan kekuatan government. Ini perlu management growing yang cepat agar tidak menimbulkan tekanan,” terangnya.

Di sisi lain, ia berharap agar kehadiran para perusahaan digital dan besarnya potensi ekonomi di sektor ini tak hanya dinikmati oleh segelintir orang. Namun, turut dirasakan oleh masyarakat di pelosok Tanah Air.

Untuk itu, pemerintah terus berusaha mendukung industri ekonomi digital agar bisa terus tumbuh dengan berbagai pembangunan infrastruktur. Misalnya, pembangunan pembangkit listrik, jaringan internet, hingga pengentasan desa-desa miskin di berbagai pelosok negeri. (Cen).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here