Home News Setelah Soekarno, 55 Tahun Kemudian Jokowi Bicara di Parlemen Pakistan

Setelah Soekarno, 55 Tahun Kemudian Jokowi Bicara di Parlemen Pakistan

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendapatkan kesempatan berbicara di Parlemen Pakistan, Jumat (26/1/2018) malam dalam rangkaian kunjungan ke 5 negara Asia Selatan.

Berdasarkan keterangan tertulis yang disampaikan Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin, Presiden menyatakan dengan demokrasi, stabilitas politik di Indonesia dapat terjaga.

“Sebagai Presiden keyakinan saya sangat kuat bahwa demokrasi merupakan cara yang paling tepat untuk melayani kepentingan masyarakat kita. Demokrasi memberikan ruang bagi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan,” ujar Presiden di National Assembly of Pakistan.

Presiden juga memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi ini dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia.

“Pembangunan yang berkeadilan terus menjadi prioritas,” kata Presiden.

Selain itu, sambung Jokowi, yang diperlukan adalah komitmen, komitmen kuat semua elemen bangsa, komitmen untuk bertoleransi agar kemajemukan terjaga, komitmen untuk saling menghormati agar demokrasi berfungsi dengan baik.

Di awal sambutannya, Jokowi menyampaikan bahwa menjadi kehormatan bagi dirinya untuk dapat berbicara di depan Sidang yang mulia Joint Session of the Parliament. Pada 26 Juni 1963, Presiden Soekarno berbicara di depan Parlemen Pakistan dan saat itu menggelorakan semangat melawan kolonialisme dan menggelorakan semangat kerja sama negara-negara yang baru merdeka.

“Lima puluh lima tahun kemudian, Presiden Republik Indonesia kembali mendapatkan kehormatan untuk berbicara didepan Parlemen Pakistan. Saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk menggelorakan kerja sama kerja sama untuk perdamaian dan kesejahteraan dunia,” ujar Presiden.

Persahabatan Indonesia dan Pakistan bukan persahabatan yang baru terjadi kemarin. Indonesia, ucap Presiden, tidak akan lupa akan dukungan rakyat Pakistan terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia.

“Sebagai wujud penghargaan, pada 17 Agustus 1995, bertepatan dengan perayaan 50 Tahun Kemerdekaan Indonesia Republik Indonesia menganugerahkan Bintang Kelas 1 Adipurna kepada Bapak Bangsa Pakistan, Muhammad Ali Jinnah atas jasa-jasa almarhum mendukung kemerdekaan Indonesia,” ujar Presiden.

Selain persahabatan, menurut Presiden, banyak sekali kesamaan di antara dua negara tersebut. Indonesia dan Pakistan adalah dua negara berpenduduk Muslim yang besar.

“Kita sama-sama menjadi negara anggota D-8, sesama negara OKI, sesama negara Non-Blok, kita sama-sama inisiator Konferensi Asia Afrika dan yang tidak kalah penting, kita sama-sama negara demokrasi,” kata Presiden.

Indonesia juga merupakan negara yang terus konsisten mendukung kemerdekaan Palestina.

“Melalui Forum ini, saya kembali menyerukan agar kita terus memberikan dukungan bagi saudara-saudara kita di Palestina. Mari kita terus dukung perjuangan Palestina!” ucapnya.

Majemuk

Presiden menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara dengan berpenduduk muslim terbesar di dunia. Sekitar 87% dari 260 juta penduduk Indonesia, yang berarti 226,2 juta penduduk adalah muslim.

“Sebagaimana Pakistan, selain rumah untuk umat Islam, Indonesia juga menjadi rumah bagi Umat Hindu, Katolik, Kristen, Buddha dan lainnya. Indonesia adalah negara yang majemuk,” tutur Jokowi.

Presiden menyatakan patut bersyukur bahwa walaupun Indonesia sangat majemuk dengan jumlah penduduk yang cukup besar dengan jumlah pulau yang lebih dari 17.000 dengan 1.340 etnis, Indonesia masih dapat menjaga kesatuannya.

“Bhinneka Tunggal Ika, itulah moto kehidupan berbangsa kami. Kami juga bersyukur bahwa kami dapat menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokratis.

Semua orang memahami bahwa mengelola kemajemukan bukanlah hal mudah, menjalankan demokrasi juga bukan hal mudah,” kata Jokowi.

Hadir mendampingi Presiden dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo antara lain Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki dan Duta Besar Republik Indonesia untuk Pakistan Iwan Suyudhie Amri.(Bis).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here