Home News Sawit, Sang Buah Simalakama

Sawit, Sang Buah Simalakama

0
SHARE

Matanurani, Pekanbaru – Tren penurunan harga komoditas kelapa sawit turut berdampak terhadap kinerja perbankan di Provinsi Riau, karena menyusutnya penyaluran kredit untuk sektor pertanian pada triwulan II-2017. Bank Indonesia Provinsi Riau dalam kajian ekonomi regional di Pekanbaru, Selasa (26/9), menyebutkan penyaluran kredit pada sektor pertanian tumbuh negatif sebesar 4,31 persen secara “year on year” (yoy). Kondisi itu juga turun dibandingkan triwulan I-2017 yang tumbuh positif 0,66 persen (yoy).

Menurunnya penyaluran kredit sektor pertanian terutama didorong oleh penurunan subsektor perkebunan kelapa sawit yang pada triwulan II 2017 tumbuh negatif sebesar 4,52 persen secara year on year, turun dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat 1,48 persen, kata Kepala Perwakilan Provinsi Riau, Siti Astiyah.

Penyaluran kredit pada sektor pertanian masih didominasi oleh subsektor perkebunan kelapa sawit dengan pangsa 92,80 persen dari total kredit pertanian, atau sebesar Rp11,93 triliun. Secara sektoral, kredit bermasalah (non performing loan/NPL) sektor pertanian juga meningkat pada triwulan II-2017 pada level 3,80 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2017 yang sebesar 3,20 persen. “Penyumbang terbesar sektor perkebunan kelapa sawit,” katanya.

BI menyatakan, secara keseluruhan terjadi perlambatan pertumbuhan penyaluran kredit perbankan Riau dari 2,89 persen pada triwulan I-2017 menjadi 1,08 persen pada triwulan II. Menurunnya penyaluran menyebabkan risiko kredit perbankan naik dari 3,53 persen jadi 3,69 persen karena pengaruh peningkatan NPL, lebih tinggi daripada kredit yang tercatat.

Turunnya penyaluran kredit sektor pertanian menjadi penyebab utama, karena penyerapan kredit perbankan masih didominasi oleh sektor tersebut bersama sektor perdagangan yang masing-masing sebesar 21,80 persen dan 21,24 persen. Nilai kredit tiap sektor mencapai Rp12,85 triliun dan Rp12,52 triliun.

“Tingginya penyerapan kredit pada kedua sektor itu tidak lepas dari dominasi kedua sektor tersebut dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau,” katanya. Tekanan stabilitas keuangan Riau pada triwulan II-2017 makin bertambah karena penyaluran kredit di sektor perdangan juga tumbuh negatif dari 3,89 persen di triwulan I-2017, menjadi sebesar negatif 1,90 persen di triwulan II.

Menurunnya penyaluran kredit sektor perdagangan terutama didorong oleh menurunnya penyaluran kredit pada subsektor perdagangan eceran makanan, minuman dan tembakau, yang pada triwulan II-2017 mengalami kontraksi sebesar 7,84 persen (yoy), meskipun sedikit lebih tinggi dibanding triwulan I-2017 yang juga mengalami kontraksi sebesar 8,68 persen (yoy).

Sebagai catatan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pernah meningkat bagus medio 1990 seiring dengan bermunculannya industri minyak sawit di berbagai daerahdi Indonesia. Namun, kejayaan sawit itu sekaligus merusak lingkungan alam, terutama kehutanan yang harus dialihfungsikan oleh jutaan hektar lahan perkebunan kelapa sawit.

Begitu menariknya pundi-pundi uang yang didapat dari bisnis ini, sehingga di Sumatera dan Kalimantan tak jarang dijumpai perkebunan sawit ribuan hektar yang dimiliki oleh warga negara jiran. Buah sawit itu menjelma menjadi buah simalakama. (Tag)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here