Home News Sampai Kapan Konflik Wiranto VS OSO Berakhir

Sampai Kapan Konflik Wiranto VS OSO Berakhir

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Tak putus dirundung malang, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) kembali menghadapi konflik internal yang pernah terjadi tahun lalu.

Menariknya, konflik kedua yang menghadapkan sosok Oesman Sapta Odang (OSO) dengan Wiranto dalam berebut kursi pucuk pimpinan partai politik tersebut terjadi setelah kedua tokoh itu sama-sama sukses memenangkan calon presiden Joko Widodo pada Pilpres 2019.

Hanya saja, Jokowi dilantik menjadi presiden pada 20 Oktober lalu, sedangkan parpol yang berdiri pada 21 Desember 2006 itu gagal meloloskan wakilnya ke Senayan.

Hanura tidak lagi menjadi parpol pendukung pemerintah di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) karena terganjal ambang batas parlemen empat persen raihan suara secara nasional.

Memang perseteruan antara mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) dan Wiranto bukan barang baru. Bukan pula isu baru.

Keduanya sudah berkonflik sejak Hanura pecah kongsi menjadi kubu Manhattan dan kubu Ambhara. Kedua nama kubu merujuk pada dua hotel terkemuka yang menjadi saksi perhelatan politik partai tersebut pada awal 2018.

Awal Konflik

Aksi saling pecat kader yang dilakukan Sekretaris Jendral DPP Hanura kala itu, Sarifuddin Sudding, dan OSO pada 15 Januari 2018 menjadi awal dari konflik selanjutnya.

Meski OSO masih tercatat sebagai Ketua Umum Hanura menggantikan Wiranto yang memilih jadi Ketua Dewan Pembina pada pada 2016, namun Sudding beserta barisan pendukungnya menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) pada 18 Januari 2018. Alhasil, Daryatmo terpilih sebagai Ketua Umum setelah OSO dipecat versi Sudding.

Tak dapat dipungkiri, aksi saling pecat itu telah menyeret nama Ketua Wantimpres periode 2019-2014 itu. Apalagi kubu Sudding menyebut Wiranto mengetahui perihal pemecatan OSO.

Akan tetapi, OSO yakin Wiranto tidak mendukung pemecatannya karena dirinya merasa tidak bersalah.

Seperti berbalas pantun, OSO pun mengancam akan memecat Wiranto bila menyetujui langkah Kubu Ambhara. Dalam perkembangan berikutnya, pada Juli 2018, kubu Manhattan melayangkan tudingan yang menyatakan Wiranto mendukung kubu Ambhara.

Kubu OSO pun menyebut Wiranto telah menggelar pertemuan secara diam-diam alias pertemuan ilegal untuk menguatkan kubu Ambhara yang dipimpin Sudding. Pada tahap inilah konflik kedua kubu kian membara.

Saling Menyalahkan

Pada episode berikutnya, Pemilu 2019 ternyata tidak menyurutkan konflik di tubuh partai tersebut. Apalagi setelah melihat hasil kontestasi politik dan kenyataan Hanura terpuruk.

Bahkan tidak hanya di Senayan, di tingkat DPRD DKI Jakarta sekalipun parpol itu tidak lagi punya wakil sebagai akibat dari konflik di internal partai.
OSO dalam beberapa kesempatan menyalahkan Wiranto atas kegagalan Hanura mendapatkan kursi di parlemen untuk periode 2019-2024.

Tidak tinggal diam, Wiranto menyatakan dirinya adalah yang paling sedih atas kegagalan Hanura melenggang ke Senayan meski tidak secara langsung menyalahkan OSO. Wiranto hanya meminta semua pihak untuk introspeksi diri dan tidak saling menyalahkan.

Hanya saja dia berterus terang bahwa dirinya telah bersalah karena menunjuk OSO menjadi Ketua Umum Hanura.

Kini, konflik di antara keduanya kembali memuncak. OSO sebagai Ketua Umum Hanura mengambil kebijakan mendepak Wiranto dari kursi Ketua Dewan Pembina Partai Hanura. Di sisi berseberangan, Wiranto bersama barisan pendukungnya pun mendesak OSO untuk mengundurkan diri.

Kubu Wiranto mengancam akan mengadakan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) sebagai tandingan dari Munas yang mengukuhkan OSO sebagai Ketua Umum Hanura periode 2010-2024 pada Selasa lalu.

Lalu pertanyaannya, sampai kapankah konflik internal Hanura akan berakhir. Akankah Hanura mampu mengantarkan kader terbaiknya untuk merebut kontestasi pilkada serentak tahun depan?. Atau sebaliknya, kian tenggelam dan semakin kehilangan suara pendukung menjelang Pemilu 2024. (Bis).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here