Home News Sampai Februari, Penyaluran KUR Sudah Mencapai Rp 7 triliun

Sampai Februari, Penyaluran KUR Sudah Mencapai Rp 7 triliun

0
SHARE
Deputi I Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir

Matanurani, Jakarta – Penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) pada awal tahun ini lebih cepat dibandingkan dengan awal tahun lalu. Hal tersebut terlihat dari data yang disajikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Deputi I Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan, per akhir Februari 2018 realisasi KUR sudah mencapai Rp 7 triliun. Adapun, total plafon yang sudah diberikan oleh pemerintah kepada perbankan sudah mencapai Rp 116,5 triliun awal tahun ini.

Tidak hanya penyalurannya yang lebih cepat, kredit bermasalah KUR juga sudah cukup rendah awal tahun ini yakni sebesar 0,21% per Februari 2018.

“Dari 34 bank penyalur, termasuk lembaga pembiayaan sampai Februari 2018 (laporan) sudah Rp 7 triliun realisasinya,” kata Iskandar.

Ia mencontohkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sudah lebih cepat dalam penyaluran KUR. Dari total plafon sebesar Rp 13,5 triliun tahun ini, setidaknya BNI telah menyalurkan Rp 2 triliun sampai Februari 2018.

Menurutnya, kencangnya penyaluran KUR terjadi lantaran bunga KUR sudah dipatok rendah sebesar 7%. Belum lagi, kini perbankan telah memanfaatkan teknologi dalam penerapannya.

Sebagai informasi saja, hingga akhir 2017, penyaluran KUR belum mencapai target. Tahun 2017, walau terjadi kenaikan 2,4% dari tahun sebelumnya, realisasinya hanya sebesar Rp 96,71 triliun atau 90,1% dari total target Rp 110 triliun.

Kredit tersebut masuk ke lebih dari 4 juta debitur dalam lima sektor besar yaitu perdagangan 58%, petanian, perkebunan dan kehutanan 24%, jasa 11%, industri pengolahan 5,5% dan perikanan 1,5%.

Agar penyaluran KUR semakin cepat pada tahun ini, Kemenko Perekonomian telah merencanakan skema baru. Salah satunya skema pembayaran KUR bagi para petani kelapa sawit. Nantinya, petani kelapa sawit diperbolehkan membayar empat tahun setelah peminjaman atau pada masa panen.

“Tapi untuk skema ini harus ada offtaker-nya dari bank, jadi bisa dipastikan bahwa saat panen ada perusahaan besar yang dapat menjaga harga stabil,” ujarnya. (Ktn).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here