Home News Sambut Tahun Baru, Lebih Masuk Akal Bikin ‘Goal’ Dibanding Resolusi

Sambut Tahun Baru, Lebih Masuk Akal Bikin ‘Goal’ Dibanding Resolusi

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Berawal dari tradisi budaya dan keagamaan, saat ini resolusi menjadi sebuah kebiasaan yang sering dilakukan menjelang tahun baru, dengan Januari disebut sebagai bulan baru.

Nama Januari terinspirasi dari nama dewa yang memiliki dua wajah. Masing-masing melihat kedua arah yang berbeda dan lantas dimaknai sebagai kesempatan orang untuk menilai (review) hal yang sudah terjadi pada masa lalu serta membayangkan hal yang akan terjadi pada masa depan.

Dalam hal ini, seseorang membuat sebuah resolusi sebagai sebuah janji yang dibuat dan dipegang untuk dirinya sendiri. Dalam perjalanannya, pemaknaan perayaan ini menjadi budaya yang berlaku secara umum.

Seberapa penting menjalankan budaya ini menjadi preferensi yang berbeda tiap orang. Ada yang menganggapnya penting, ada juga yang tidak. Karena hal ini adalah budaya yang muncul dari minat , maka tidak ada nilai benar dan salah.

Fadilla, M.Psi. yang merupakan pengajar, psikolog, dan konsultan karier di binakarir.com, lebih menganjurkan anak muda untuk membuat tujuan (goal) ketimbang membuat resolusi yang bersifat preferensi.

“Karena perlu atau tidaknya resolusi sangat relatif, lebih baik membuat goal. Kedua kata ini tampak serupa, tapi sebenarnya punya makna yang berbeda,” ujarnya.

Menjelaskan lebih lanjut, menurut Fadilla, resolusi diibaratkan sebagai sebuah jalan yang dipilih untuk menjalankan kehidupan.

Ini adalah sebuah proses yang dijalankan terus- menerus tanpa berbicara tentang akhir atau ujungnya (end-point). Sementara goal adalah serangkaian target yang indikator pencapaiannya jelas.

Sudah jadi nalurinya manusia untuk tidak tahan dengan sesuatu yang tidak jelas. Apalagi pada masa pandemi seperti sekarang ini. “Situasi serba tidak jelas. Supaya tetap sadar, kita perlu membuat goal agar tetap merasa on the track dalam kehidupan,” tambah Fadilla.

Karena itulah, pada masa pandemi ini, membuat goal dirasa lebih cocok dibanding membuat resolusi yang punya pemaknaan pada perubahan besar dengan proses yang panjang.

“Orang dalam survival-mode itu kan pikirannya now-recent(sekarang) dan bukan jangka panjang. Makanya kalau disuruh mikirin resolusi akan jadi tidak relevan. Tapi kalau bicara tentang goal dan target, bisa lebih relevan,” ujarnya. (Sin).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here