Home News Ridwan Kamil Gulirkan Program 5.000 Petani Milenial, Ini Tanggapan Duta Petani Andalan...

Ridwan Kamil Gulirkan Program 5.000 Petani Milenial, Ini Tanggapan Duta Petani Andalan Kementan

0
SHARE

Matanurani, Bandung – Rencana Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang akan merekrut 5.000 petani milenial di Jawa Barat dan menyiapkan total lahan seluas 1.000 hektare untuk disulap jadi lahan pertanian direspons positif.

Namun, rencana ini harus ditopang dengan program yang berkesinambungan dan pelatihan keilmuan bertani kepada generasi muda. Sehingga petani milenial tidak hanya program sesaat, tapi bisa jadi profesi yang melekat.

“Kalau melihat dari aspek program sangat baik, tinggal implementasinya bagaimana. Sebab generasi muda sekarang khususnya di perkotaan jarang yang mau jadi petani, apalagi lahan juga semakin terbatas,” kata Ulus Pirmawan, petani asal Kampung Gadok, Desa Suntenjaya, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Sabtu (30/1).

Petani yang mendapat penghargaan internasional dari Food and Agriculture Organization (FAO)/Organisasi Pangan Dunia ini menyebutkan, ketika anak petani atau yang background pendidikannya STM pertanian, mungkin bisa langsung konek dengan program ini.

Tapi yang tidak punya pengalaman pasti akan sulit, apalagi menjadi petani harus menanggalkan semua predikat dan gelar. Belum lagi soal lahan, apakah 1.000 hektare (ha) itu dalam satu hamparan atau terpisah-pisah, itu juga harus diperhitungkan.

Menurutnya, setiap petani milenial yang mendapat lahan 2.000 meter persegi dinilai terlalu kecil. Supaya berkesinambungan mestinya 6.000 meter, jadi setiap tiga minggu menanam di lahan 2.000 meter. Kemudian pekan keempat menanam di lahan lain, sehingga setiap dua bulan bisa panen secara berkesinambungan.

“Saya kira kalau lahan 2.000 meter terlalu kecil, mininal di 6.000 meter. Jadi setiap dua bulan sekali bisa panen dan berkelanjutan, tidak ada jeda selama satu tahun. Sehingga hasil panen yang dijual juga lebih menjanjikan,” terang Duta Petani Andalan (DPA) Kementerian Pertanian (Kementan) ini.

Lebih lanjut, kata Ulus, ketika lahannya tidak sentralistik maka mesti ada pemilahan pertanian. Misalnya kawasan Cirebon dan Majalengka fokus di buah-buahan, lalu Lembang, Ciwidey, Pangalengan, menggarap sayuran, sementara Subang, Karawang, lebih ke pertanian padi. Sehingga bisa bervariasi dan punya ciri khas masing-masing.

“Harus diperjelas juga, apakah PT Agro selaku Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jabar hanya membeli produknya, sementara petani milenial fokus diproduksi saja, atau bagaimana? Paling tidak petani milenial tidak hanya sebagai objek saja, tapi berhak atas kesuksesan usaha yang dijalankannya,” ujarnya.(Sin).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here