Home News Rasio Pembayaran Utang Turun, Ekonom: Masih dalam Taraf Aman

Rasio Pembayaran Utang Turun, Ekonom: Masih dalam Taraf Aman

0
SHARE

Petugas menata tumpukan uang dolar AS di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (18/4). Bank Indonesia mencatat total utang luar negeri Indonesia per Februari 2018 berada pada posisi 356,23 miliar dolar AS atau naik 9,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang terdiri atas utang pemerintah dan bank sentral sebesar 181,4 miliar dolar AS dan utang swasta sebesar 174,8 miliar dolar AS. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/ama/18.

Matanurani, Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia pada kuartal III-2019 ini sebesar US$ 395,6 miliar. Capaian ini mengalami peningkatan sebesar 10,2% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tumbuh sebsar 10,1% (yoy).

Selain itu, dalam laporan BI menunjukkan rasio pembayaran utang alias debt to service ratio (DSR) pada kuartal III-2019 tersebut mengalami penurunan. Persentase DSR Tier 1 menurun menjadi 27,35% atau lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang tercatat 28,21%.

Ekonom Bank BCA David Sumual melihat meningkatnya ULN pemerintah pada kuartal III tersebut yang menjadi salah satu faktor yang mengekang. Namun, karena DSR masih berada di bawah 30%, maka David menilai bahwa penurunan ini masih di dalam taraf aman.

Demikian juga dengan rasio utang terhadap PDB yang dinilai David masih sehat. BI mencatat rasio ULN Indonesia terhadap PDB adalah sebesar 36,3% atau membaik dibandingkan dengan rasio pada kuartal sebelumnya yang sebesar 36,8%.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy juga melihat hal yang serupa. Namun, Yusuf lebih menyoroti soal usaha yang harus dilakukan pemerintah dalam mengelola rasio DSR ke depannya.

Yusuf mengimbau agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada produk komoditas unggulan ekspor. Oleh karena itu, perlu dilakukan diversifikasi produk, sehingga nantinya baik swasta maupun pemerintah tidak terlalu terpengaruh dengan volatilitas harga komoditas.

“Harga komoditas saat ini masih naik turun, oleh karena itu dengan adanya diversifikasi bisa membuat Indonesia tidak terlalu bergantung dengan produk yang selama ini diekspor,” kata Yusuf, Minggu (17/11).

Yusuf pun mengambil contoh komoditas sawit. Menurutnya, Indonesia masih bisa mengolah sawit dan tidak hanya mengekspor hanya ke produk turunan pertama saja, atau produk minyaknya saja.

Oleh karena itu, Yusuf juga berharap dengan adanya kreativitas untuk mengembangkan produk, seperti dari hanya mengekspor minyak, menjadi produk sawit lain seperti sapu, sabun, sampo, dan lain-lain.(Ktn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here