Home News Rasio Kredit UMKM Hanya 18.8%, Perbankan Perlu Kerja Ekstra Capai Minimal 20%

Rasio Kredit UMKM Hanya 18.8%, Perbankan Perlu Kerja Ekstra Capai Minimal 20%

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Ketua Lembaga Pengembangan Usaha Kadin Indonesia, Raden Teddy menilai rendahnya rasio kredit UMKM tahun 2017 yang hanya mencapai 18.8% (Okt), akan memberikan dampak yang buruk terhadap perekonomian.

“Tahun 2011 lalu, rasio kredit UMKM  sempat sentuh lebih dari 20%, namun terus turun pada Oktober 2017 yang hanya mencapai 18,8%. Sementara sesuai Peraturan Bank Indonesia No. 17 tahun 2015 Bank wajib memiliki rasio kredit UMKM sebesar minimal 20% dari total kredit yang dikucurkan,” kataTeddy kepada matanurani, di Jakarta, Minggu, (14/1).

Karenanya, saran Teddy jika asumsi pertumbuhan kredit 2018 sebesar 10% maka setidaknya Bank akan mengucurkan kredit UMKM sebesar Rp145,7 triliun. Padahal dalam 5 tahun terakhir rata-rata pengucuran kredit UMKM baru hanya Rp 65 triliun.

“Artinya bank harus kerja ekstra agar mencapai rasio kredit UMKM minimal 20%. Tapi, jika dilihat dari berbagai hal di tahun 2018, misalnya ditetapkannya target KUR sebesar Rp 120 triliun, saya tidak yakin jika rasio kredit UMKM dapat mencapai 20%,” ujarnya.

Apalagi, kata Teddy saat ini pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2017 hanya meningkat tipis sebesar 8.1%  (yoy), dibanding 2016 sebesar 7.8%. Sementara pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) masih cukup baik dan rasio antara besarnya seluruh volume kredit dengan sejumlah penerimaan dana (Loan Deposit Ratio – LDR) mencapai lebih dari 88%. Dan yang luar biasa adalah pembiayaan dari pasar modal juga meningkatnya luar biasa sehingga mengkompensasi lambannya pertumbuhan kredit perbankan.

Pertumbuhan pembiayaan di pasar modal sepanjang 2017 cukup fantastis kata Teddy, melebihi 35 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya. Nilai Pembelian Surat Berharga mencapai 1.026.157 juta, telah melampaui total Kredit UMKM yang hanya 857.533 juta. Dan terbesar adalah pembelian Obligasi dan surat berharga lain-lain.

“Bank kini telah berubah arahnya dari Agent Of Development,  menjadi penutup defisit pembayaran hutang dan agen korporasi,” ungkap Teddy.

Karenanya Teddy berharap melalui Kadin, rasa pesimistis untuk dapat mencapai target rasio kredit UMKM minimal 20%  itu dapat diubah menjadi optimistis bila program Kadin dalam bidang UMKM dengan pola Linkage berjalan dengan baik.

“Saatnya Kadin membantu perbankan dengan membentuk usaha-usaha pola Linkage berkonsep OVOP atau One Village One Product  yakni pengembangan potensi ekonomi daerah dengan produk lokal.  Karena kredit pola Linkage dapat bernilai besar,  berkualitas dan proses kreditnya lebih mudah. Sehingga, tahun 2018 kita jadikan sebagai tahun kebangkitan UMKM,” pungkas Teddy. (Smn).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here