Home News Pusri Dorong Petani Gunakan Pupuk Non Subsidi

Pusri Dorong Petani Gunakan Pupuk Non Subsidi

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Keterbatasan kuota pupuk subsidi dari pemerintah selalu menjadi hal yang sulit bagi petani. Untuk itu, perusahaan industri pupuk tidak dapat berbuat banyak, selain mendukung para petani untuk beralih ke pupuk non subsidi.

Agar tidak memberatkan petani, PT Pupuk Sriwidjaja meluncurkan agrosolution, yakni pendampingan bagi petani untuk meningkatkan produksi. Direktur Utama PT Pusri, Tri Wahyudi Saleh mengatakan, kuota pupuk bersubsidi yang diberikan pemerintah sifatnya memang terbatas, sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan pupuk bagi para petani.

“Karenanya kita mengajak dan mendorong para petani untuk memahami pemupukan yang baik, sehingga mereka tidak lagi menggunakan pupuk subsidi,” ujar Tri Wahyudi, disela peringatan HUT PT Pusri ke 61 tahun, Kamis (24/12).

Ia menjelaskan, lewat program agrosolution itu, pihaknya dapat mewujudkan transformasi industri pupuk, yang kini berperan sebagai pendamping petani.

“Pusri akan siapkan komunitas dan ekosistemnya mulai dari hulu hingga ke hilir. Mereka ini yang akan memberikan pemahaman kepada petani mengenai bagaimana cara pemupukan yang baik,” kata dia.

Dijelaskannya, dalam program itu nantinya kelompok tani akan dibina mengenai cara penggunaan pupuk, karena selama ini masih banyak petani yang hanya asal-asalan saja sehingga kurang berdampak signifikan pada produksi.

Dengan program ini, pihaknya berharap petani nantinya tidak tergantung lagi dengan pupuk subsidi karena dalam program ini Pusri juga mengandeng berbagai pihak.

“Kami juga melibatkan perbankan untuk penyaluran KUR, ada juga asuransi pertanian, hingga off-taker industri,” lanjut Tri.

Selain itu, Pusri juga terus melakukan inovasi untuk melahirkan produk unggulan yang dapat bermanfaat bagi sektor pertanian. Bahkan baru-baru ini, Pusri melakukan penggunaan pupuk untuk tanaman lada dan kopi di Belitung. Kemudian juga akan melakukan langkah serupa di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

“Contohnya kami sudah membuat NPK singkong di Pati (Jateng) dan Lampung Selatan. Dari 20 ton, kini produksi sudah 40 ton,” ujarnya.

Melalui pengawalan pola produksi dan ketepatan ini diharapkan petani nantinya akan lebih maksimal dalam penggunaan pupuk. Solusi ini akan membantu petani yang kekurangan biaya dalam pembelian pupuk. Untuk Sumsel, produktivitas petani hanya 5-6 ton padi per hektare, padahal di Jawa sudah ada yang bisa 10 ton.

Berdasar catatan pihaknya, total stok seluruh lini pada 2020 yakni sebesar 294.937,75 ton. Rinciannya untuk NPK subsidi sebesar 14.254,65 ton dan NPK non subsidi sebesar 3.779,66 ton.

Selain memberikan pendampingan secara langsung ke petani, Pusri juga terus membenahi sisi internal untuk menghasilkan pupuk yang murah bagi petani. Pusri berencana merevitalisasi pabrik yang sudah tua dan boros dalam penggunaan gas, yakni Pusri III dan Pusri IV.

“Jika bahan baku sudah efisien dan logistik selesai maka HPP (Harga Pokok Penjualan) bisa turun,” pungkasnya. (Mei).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here