Home News Polri Bekuk Komplotan Penjual Gula Rafinasi

Polri Bekuk Komplotan Penjual Gula Rafinasi

0
SHARE
Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo (kanan) dan Kabag Penum Divhumas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra (kiri) memberikan keterangan pers hasil pengungkapan teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Divhumas Mabes Polri, Jakarta, Kamis (9/5/2019). Tim Densus 88 Antiteror Polri berhasil menangkap dua terduga anggota jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bekasi berinisial EY dan YM alias Kautsar, yang merupakan pemilik bom pipa yang ditemukan di toko handphone bernama Wanky Cell di Bekasi Barat, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww.

Matanurani, Jakarta – Mabes Polri membongkar praktik lawas penyalahgunaan gula kristal rafinasi (GKR). Gula yang seharusnya hanya untuk industri makanan dan minuman itu dikemas ulang dan dijual sebagai gula kristal putih (GKP) untuk konsumsi. Praktik ilegal yang dibongkar polisi itu terjadi di Jateng, DIY, dan wilayah lainnya.

Awalnya adalah adanya keluhan petani tebu yang tergabung dalam APT2 PHI (Asosiasi Pedagang dan Tani Tanaman Pangan dan Holtikultura Indonesia). Juga aduan dari masyarakat konsumen gula di Jateng dan DIY tentang banyaknya peredaran GKR langsung ke masyarakat dan GKP palsu dengan menggunakan merek PTPN X.

“Kalau tidak segera dilakukan penegakan hukum maka, khususnya, petani tebu kasihan. Harganya jatuh maka petani petani tebu boleh dikatakan tidak akan lagi menanam tebu. Kalau tidak menanam tebu maka program pemerintah (swa sembada gula) jauh dari kata tercapai,” kata Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri Senin (5/8).

Motif pemalsuan ini, kata dia juga urusan perut karena adanya disparitas harga dimana harga GKR Rp 9.000/kg, sedangkan GKP Rp 12.500 sesuai harga eceran tertinggi berdasar Permendag No 96/2018.

Sementara Kasatgas Pangan Brigjen Nico Alfinta melanjutkan, perbedaan harga inilah yang membuat pelaku nekat melakukan pencampuran atau pengolahan kembali atau pembungkusan gula oplosan atau bahkan abal-abal itu untuk dijual ke konsumen.

Dari beberapa TKP di Jateng dan DIY berhasil disita 30 ton kemudian juga ada beberapa TKP pengiriman sebanyak 7.800 karung atau 360 ton. Ada lima orang yang dibekuk dari praktik culas ini.

Mulai pemilik PT yang memasukan, PT yang memperdagangkan, hingga PT yang mencampur sampai pada penjual lalu ke konsumen. Mereka adalah E, H, W alias S pembeli d Kutoarjo, S selaku pembuat GKP palsu, dan A sebagai distributor GKP palsu.

GKP palsu dan/atau GKR itu memang dijual secara langsung di pasar tradisional di Jateng dan DIY dalam bentuk kemasan @ 1 Kg ; @ 2 Kg ; 5 Kg ; dan 50 Kg.

Polisi sampai ke tersangka setelah menelusuri jalur distribusi dimana GKP palsu tersebut di peroleh dari daerah Klaten, Jateng. GKP palsu itu dikemas dengan menggunakan merek palsu mencatut PTPN X dan dibuat di daerah Purworejo.

Mereka dijerat pasal berlapis yakni Pasal 106 jo Pasal 24 jo Pasal 8 ayat 1 UU RI nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Kemudian Pasal 263 dan atau Pasal 3 UU RI nomor 8 tahun 2010 tentang TPPU jo Pasal 55 dan Pasal 56 KUH

GKR hanya diperuntukkan untuk industri dan tidak diperuntukkan bagi konsumsi langsung karena harus melalui proses terlebih dahulu. GKR mengandung banyak bahan fermentasi sehingga bisa menyebabkan masalah kesehatan.(Bes).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here