Home News Pil Pahit di Balik Kapal Tenggelam di Danau Toba

Pil Pahit di Balik Kapal Tenggelam di Danau Toba

0
SHARE

Matanurani, , Jakarta – Air mata keluarga korban kapal tenggelam di Danau Toba, Sumatera Utara, belum kering. Mereka pun belum mau beranjak dari pinggir danau sampai kabar tentang keberadaan orang terkasih, terdengar.

Sedih, lelah, dan marah, bercampur menjadi satu. Terlebih, mereka mendengar sejumlah keanehan terkait kapal yang karam pada Senin 18 Juni 2018. Salah satunya soal penangkapan nakhoda KM Sinar Bangun.

Kabar ini mengejutkan karena ternyata, orang yang mengendarai kapal saat tenggelam bukanlah nakhoda aslinya.

Nakhoda KM Sinar Bangun ditangkap di kediamannya. Pria berinisial SS itu dalam kondisi trauma saat ditangkap polisi.

Kapolres Simalungun, AKBP Marudut Liberty, enggan membeberkan orang yang membawa KM Sinar Bangun saat karam. Alasannya, untuk menjaga keamanan.

“Masih kita amankan. Kita tidak bisa memberitahu keberadaannya. Kalau kita beritahu, bisa menimbulkan hal yang tak diinginkan bersama. Kita masih terus melakukan pemeriksaan terkait peristiwa ini,” kata Marudut.

Dia mengatakan, penangkapan ini bermula dari kecurigaan polisi tentang daftar korban selamat, meninggal dan hilang.

“Aneh. Dalam pengungkapan kasus tenggelamnya KM Sinar Bangun, dalam daftar korban yang selamat maupun yang hilang, nama nakhoda tidak ditemukan. Nakhoda sampai saat ini masih berada di darat,” ucap Marudut.

Ternyata, SS meminjamkan kapalnya kepada seseorang untuk membawa penumpang.

Oleh karena itu, kepolisian membawa kasus kapal tenggelam di perairan Danau Toba ini ke Mahkamah Pelayaran.

Peminjam juga menggunakan kapal itu untuk mengangkut penumpang dengan jumlah berkali-kali lipat dari semestinya. Seharusnya, KM Sinar Bangun hanya berkapasitas 40-an penumpang sekali berlayar seperti yang tertera dalam standar operasi pelayarannya. Namun, kapal mengangkut hampir 200 orang pada saat itu.

KM Sinar Bangun juga mengangkut sepeda motor sekitar 60 unit dan tidak memiliki manifes.

Spesifikasi kapal yang tenggelam di Danau Toba itupun tidak sesuai dengan sertifikat, yang menyebut panjangnya 17 meter, lebar 4 meter dan tingginya 1,5 meter. Pada kenyataannya, tinggi kapal mencapai 3 lantai.

“Seharusnya standar kapal penumpang harus dilengkapi life jacket, rubber boat dan sekoci. Kita segera investigasi,” ungkap Marudut.(Cen).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here