Home News Petani Tebu Minta Menteri Rini Revitalisasi Pabrik Gula Milik BUMN

Petani Tebu Minta Menteri Rini Revitalisasi Pabrik Gula Milik BUMN

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Para petani yang tergabung dalam Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) meminta pemerintah untuk segera merevitalisasi pabrik gula yang sudah terbilang sangat tua dan tidak lagi efisien dalam pengolahan tebu.

Ketua Umum APTRI Soemitro Samadikoen mengatakan bahwa pihaknya meminta pabrik gula Badan Usaha Milik Negara (BUMN) segera direvitalisasi dan tidak menutup pabrik yang ada sebelum pabrik baru selesai dibangun.

“Diharapkan bisa memberikan kesempatan pihak swasta nasional untuk bekerja sama dengan BUMN dalam rangka mewujudkan swasembada gula,” kata Soemitro, dalam keterangan tertulisnya, Senin (28/8).

Kurang lebih sebanyak 5.000 petani dari seluruh Indonesia berkumpul di Jakarta untuk unjuk rasa di Istana Negara, Kantor Menteri Perdagangan dan Kantor Menteri BUMN yang salah satunya menuntut adanya revitalisasi pabrik gula BUMN.

Menurut Soemitro, dengan adanya revitalisasi pabrik gula tersebut nantinya akan bisa meningkatkan tingkat rendemen tebu yang saat ini masih rendah. Gula tani saat ini tidak laku karena banyaknya gula impor masuk pasar konsumsi baik dari gula impor untuk konsumsi maupun dari rembesan gula rafinasi.

Selain itu, faktor lain yang menyebabkan harga gula turun adalah adanya Pajak Pertambahan Nilai (PPN), meskipun permasalahan tersebut sudah selesai dan gula tani bebas PPN.

Harga gula tani pada 2017 merosot tajam yakni rata-rata Rp9.000-Rp9.500 per kilogram dibanding 2016 di mana harga sangat tinggi dengan rata-rata Rp11.000-Rp11.500 per kilogram. APTRI mengklaim, kerugian akibat penurunan harga tersebut mencapai Rp2 triliun.

Para petani tebu tersebut, juga meminta pemerintah menindak tegas pelaku perembesan gula rafinasi ke pasar konsumen yang menyebabkan gula petani tidak terserap oleh konsumen.

Beberapa tuntutan lainnya adalah APTRI meminta pemerintah melalui Perum Bulog untuk membeli gula tani sebesar Rp11.000 per kilogram dan meminta Harga Eceran Tertinggi (HET) gula dinaikkan menjadi Rp14.000 per kilogram di mana saat ini ditentukan sebesar Rp12.500 per kilogram.

Kementerian Perdagangan telah memfasilitasi beberapa kerja sama antar pelaku usaha. Kerja sama tersebut antara Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dengan distributor gula, GIMNI, Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI) dan Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ADDI).

Dalam kesepakatan itu, ditetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) di ritel modern untuk komoditas gula ditetapkan sebesar Rp12.500 per kilogram, minyak goreng kemasan sederhana Rp11.000 per liter, dan daging beku dengan harga maksimal Rp80.000 per kilogram.

Kemudian agar penerapan HET tersebut menjangkau pasar tradisional, juga difasilitasi kesepakatan antara Ikatan Pedagang Pasar Tradisional (IKAPPI) dan Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), masing-masing dengan BULOG, Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), dan ADDI.

Dalam MoU IKAPPI dan APPSI dengan Bulog, dijelaskan harga jual eceran maksimal di pedagang pasar rakyat untuk komoditi beras Rp9.500 per kilogram, gula Rp12.500 per kilogram, minyak goreng kemasan sederhana Rp11.000 per liter, bawang merah Rp32.000 per kilogram, dan bawang putih Rp30.000 per kilogram.(Oke).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here