Home News Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bisa Naik 5,4% Terkerek Pertumbuhan Global

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bisa Naik 5,4% Terkerek Pertumbuhan Global

0
SHARE
Ilustrasi Sejumlah pekerja bekerja di ketinggian salah satu proyek.

Matanurani, Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini diperkirakan bisa lebih tinggi lagi dibanding tahun lalu. Bahkan, Bank Indonesia (BI) melihat, ada peluang target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dipatok dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebear 5,4%, bisa dicapai.

Baru-baru ini, International Monetary Fund (IMF) melalui World Economic Outlook mengerek proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2018 dan 2019 sebesar 0,2% dari proyeksi sebelumnya menjadi 3,9%. Tak hanya itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2017 juga meningkat 0,1% menjadi 3,7%.

Kenaikan itu, sejalan dengan momentum pertumbuhan ekonomi dunia dan ekspektasi dampak dari kebijakan pemangkasan pajak yang dilakukan Amerika Serikat (AS).

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, kenaikan proyeksi itu menjadi kabar baik karena menunjukkan ekonomi dunia terus mengalami perbaikan. Membaiknya pertumbuhan ekonomi itu lanjut dia, ditopang oleh perbaikan ekonomi negara-negara berkembang yang lebih besar dibanding perbaikan ekonomi negara-negara maju.

“Dan ini juga direspon dengan harga-harga komoditi yang meningkat,” kata Agus, Jumat (26/1). Hal itu turut berimbas pada volume perdagangan dunia yang lebih baik, meski tak setinggi di tahun 2017.

Prospek ekonomi global yang lebih baik ini kata Agus menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk mengambil manfaatnya. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini bisa lebih baik lagi. Dari proyeksi kisaran pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1%-5,5% di tahun ini, Agus optimistis target dalam APBN 2018 sebesar 5,4% bisa dicapai.

Namun, ada persyaratannya. “Kalau terus melakukan reformasi dan perbaikan, kita bisa di tingkat yang tinggi dari pertumbuhan ekonomi,” tandasnya.

Tak hanya itu, Indonesia dinilai juga tetap perlu menjaga fundamentalnya agar tetap kuat sebagai modal dalam menghadapi risiko-risiko eskternal. Utamanya, kenaikan suku bunga acuan bank sentral negara-negara maju.

Walapun saat ini resiliensi ekonomi dinilai terus membaik, yang tercemin dari pertumbuhan ekonomi di kisaran 5%, inflasi sesuai target di sekitar 3%, cadangan devisa (cadev) di posisi US$ 130,2 miliar yang mencatat rekor, kenaikan peringkat surat utang dari Standard and Poors (S&P) dan Moodys, hingga pergerakan nilai tukar rupiah yang lebih stabil.(Ktn).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here