Home News Permasalahan Data Harus Selesai Untuk Atasi Kisruh Beras

Permasalahan Data Harus Selesai Untuk Atasi Kisruh Beras

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Pengamat menilai ada beberapa permasalahan yang harus selesaikan dalam upaya memenuhi stok beras nasional.

Direktur Penelitian Centre of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan permasalahan yang pertama adalah perbedaan data yang dimiliki antara Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag). “Jika pemerintah ingin mengatasi masalah ini (kekurangan stok beras), pemerintah harus mempunyai kendali dalam stok beras,” katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

Menurut Faisal, Kemendag memiliki tekanan untuk mampu mengendalikan harga beras. Impor diakui sebagai jalan yang paling mudah dan paling cepat.

Tetapi, sebaiknya keputusan itu tidak diambil secara tiba-tiba. “Pemerintah perlu memastikan kebutuhan. Kalau mau impor, rencananya sudah disusun di awal tahun, tidak mendadak seperti ini,” tuturnya.

Salah satu hambatan atau indikator sulitnya mengumpulkan data adalah keterbatasan dana untuk melakukan survei atas stok beras yang ada. Dia menyatakan pemerintah mestinya dapat mengikuti langkah-langkah yang diterapkan negara-negara ASEAN lainnya dalam mengendalikan komoditas pangan ini.

“Di negara lain, pemerintahnya mendapatkan data stok beras dari BUMN dan juga dari perusahaan swasta,” terang Faisal.

Beberapa negara ASEAN, lanjutnya, mewajibkan distributor beras untuk melapor secara reguler tiap bulan. Langkah tersebut mampu menambah khazanah data pemerintah terkait untuk mengidentifikasi permasalahan dalam distribusi.

Sementara itu, Indonesia hanya memiliki data dari Perum Bulog yang menguasai 10% stok beras nasional. Artinya, pemerintah tidak memiliki data atas 90% stok beras.

Jumlah penduduk yang terus bertambah menjadi faktor lain yang berpengaruh dan mengharuskan pemerintah bekerja lebih keras meningkatkan produksi beras tiap tahunnya. Apalagi, selalu ada lonjakan permintaan pada masa-masa tertentu, seperti Hari Raya dan masa liburan. Kenaikan permintaan biasanya membuat harga turut melambung.

Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), beras merupakan komoditas yang memberi sumbangan terbesar terhadap garis kemiskinan dengan porsi 18,8% di perkotaan dan 24,52% di pedesaan. “Oleh karena itu, beras sangat rentan,” imbuh Faisal. (Bis).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here