Home News Pengembangan Kakao: Konsistensi Pemerintah Jadi Sorotan

Pengembangan Kakao: Konsistensi Pemerintah Jadi Sorotan

0
SHARE

Matanurani, Jakarta — Petani kakao berharap pemerintah menjaga konsistensi pengembangan komoditas kakao di tingkat petani secara nasional.

Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APKI) Lampung Fajar Sasora mengatakan program rehabilitasi yang sedang ini dicanangkan sejak tahun lalu mengganti program gerakan nasional yang telah gagal pada 2017 lalu.

Menurutnya, program rehabilitasi sejenis dengan peremajaan. Pemerintah pun telah menyediakan dua jenis dari bibit asal yang membutuhkan waktu tanam hingga tiga tahun dan bibit unggul varietas MCC02 dengan cara klonang atau sambung samping.

“Kami di Lampung hanya menerima pengadaan yang dari bibit unggul karena lebih efektif dan efisien, kalau dari bibit asal ini sudah lama dan hasilnya kecil-kecil,” katanya,  Senin (30/3).

Menurut Fajar dengan bibit unggul MCC02 sudah mulai berbuah pada usia setahun. Selanjutnya pada usia 1,5 tahun produksinya sudah mencapai 1,5 kg/batang dan naik menjadi 2 kg/batang pada usia 2 tahun.

Kakao unggul tersebut berproduksi optimal hingga usia 12 tahun mencapai 3-3,5 ton/ha/tahun. Dengan demikian jika program pemberian bibit unggul ini secara konsisten dilakukan selama lima tahun ke depan maka produksi nasional dipastikan akan meningkat signifikan.

Menurut Fajar saat ini biji kakao yang dihasilkan secara nasional hanya berkisar 200.000-300.000 ton, padahal kebutuhan kakao di Indonesia sekitar 800.000 ton.

“Kalau untuk sampai mandiri memenuhi kebutuhan nasional saya belum bisa prediksi bisa sampai kapan tetapi yang jelas pemerintah konsisten dulu dengan rehabilitasi ini dan aktif melibatkan petani dalam pengadaan,” ujarnya.

Dari sisi harga, Fajar menyampaikan kakao cenderung lebih stabil dibanding komoditas lain seperti kopi.

Pasalnya rentang harga jual kakao kering di tingkat petani selalu berkisar antara Rp26.000 – Rp30.000 per kilogram. Hal itu hanya tergantung dari banyak sedikitnya biji kakao yang dihasilkan ketika panen.

Sementara itu, untuk kakao fermentasi saat ini berkisar Rp50.000 – Rp60.000 per kg dan baru sedikit petani yang menjual. Harga tersebut tentu berbeda pada tingkat eksportir, di mana nilai tukar rupiah dan berbagai komponen lain turut menentukan harga jualnya.

Sisi lain, Fajar menyampaikan adanya wabah covid-19 saat ini belum mengganggu produktivitas petani khususnya di Lampung. Dia memastikan masih banyak petani yang melakukan kegiatan sehari-hari berkebun untuk menyiapkan panen besar sekitar tiga bulan lagi.

Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian Muzdalifah pernah mengatakan seharusnya Indonesia mampu mencetak produksi kakao hingga 1,7 juta ton dari 1,7 hektare lahan kakao yang ada.

“Dua permasalahan utama kita yakni pohon yang sudah tua dan pemeliharaan yang tidak insentif dari petani. Sehingga program edukasi pada petani di seluruh wilayah dengan kurikulum yang baru dirilis CSP [Cocoa Sustainability Partnership],” katanya.

Muzdalifah mengharapkan dalam 5-10 tahun mendatang produksi kakao Indonesia bisa mencapai dua kali lipat dari yang saat ini terjadi. Adapun saat ini, Indonesia tercatat sebagai penghasil kakao terbesar di Asia dan ketiga terbesar di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana.(Bis).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here