Home News Pemulihan Ekonomi Bergantung Keberhasilan Tangani Corona

Pemulihan Ekonomi Bergantung Keberhasilan Tangani Corona

0
SHARE
An Indonesian woman walks past a mural that invite people to fight against the COVID-19 coronavirus in Surabaya, East Java on March 26, 2020. (Photo by JUNI KRISWANTO / AFP)

Matanurani, Jakarta – Pemulihan ekonomi di Indonesia sangat bergantung pada keberhasilan pemerintah menangani pandemi virus corona (Covid-19). Hal ini perlu ditunjang dengan keberhasilan negara-negara lain termasuk Indonesia menemukan obat antivirus atau vaksin Covid-19.

“Jadi, pemerintah harus melawan corona dan dampak ekonominya. Kalau kita berhasil melawan corona itu adalah recovery strategy juga untuk ekonomi,” ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (FEM IPB) Didin S Damanhuri, dalam keteranganya kepada pers, Selasa (7/4).

Menurut Didin S Damanhuri, selain penemuan obat antivirus dan vaksin, keberhasilan Indonesia menanggulangi virus corona juga tergantung efektivitas penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). “Penyerapan dana untuk melawan corona harus tepat sasaran dan tidak bocor,” kata pria bergelar profesor doktor ini.

Menurut dia, dana stimulus sektor kesehatan yang hanya Rp 75 triliun dinilai kecil. Sementara untuk insentif pemulihan ekonomi cukup besar yakni Rp 150 triliun. “Seharusnya dibalik, dana untuk sektor kesehatan dinaikkan, nanti bisa ditingkatkan kalau ada skenario kondisi paling buruk,” ujar Didin S Damanhuri

Didin melihat, pemerintah harus memprioritaskan penanganan dan perlindungan masyarakat dari penularan Covid 19. “Jadi kalau kita produksi masker dan APD (alat pelindung diri) massal, lalu dokter, perawat, rumah sakit disubsidi, maka ada perputaran uang dan menyelamatkan nyawa manusia sekaligus menyelamatkan sektor ekonomi. Jadi, jangan pendekatannya cost, tapi ini human investment,” ujar Didin S Damanhrui.

Didin S Damanhuri juga sepakat dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 19/PMK.07/2020 yang salah satunya menyebutkan, dana bagi hasil sumberdaya alam (DBHSDA) dapat digunakan oleh pemerintah daerah untuk penanganan Covid 19. Alasanya, penyelamatan masyarakat dari penularan Covid 19 menjadi prioritas sekaligus kunci utama pemulihan ekonomi.

Guru Besar IPB yang juga guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjajaran Bandung ini juga sepakat dengan prediksi Menteri Keuangan Sri Mulyani pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa di bawah 4 persen. Bahkan ekstrimnya bisa hanya mencapai 0,4 persen.

“Pertumbuhan ekonominya saya kira paling tinggi yang berat itu sekitar 2-3 persen, bahkan minus. Bisa terjadi yaitu (pertumbuhan ekonomi hanya) 0,4 persen kalau mengacu menteri keuangan. Itu angka realistis. Kan pakai perkiraan dengan asumsi semua variable dihitung dan ada cara menghitungnya,” kata Didin S Damanhuri.(Bes).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here